Postingan

Rezeki Seret atau Hati yang Tertutup? Muhasabah Sebelum Menyalahkan Takdir

Gambar
Rezeki Seret atau Hati yang Tertutup? Muhasabah Sebelum Menyalahkan Takdir Saat hidup terasa sempit, benarkah masalahnya hanya pada rezeki—atau ada ruang muhasabah yang perlu dibuka? Sebuah refleksi tentang takdir, keberkahan, dan kesehatan hati dalam perspektif Islam. Oleh: Tsaqif Rasyid Dai persadani.org | 30 Mei 2026 — 13 Dzulhijjah 1447 H Ketika Rezeki Terasa Seret: Mengapa Hidup Kadang Terasa Sempit? Sudah kerja keras. Sudah berusaha. Sudah tidak pernah diam. Tapi hasilnya terasa seperti air yang mengalir ke pasir—cepat meresap, tidak berbekas. Ada pintu yang tampaknya tertutup, meski berkali-kali diketuk. Ada jalan yang seolah buntu, meski sudah dicari ujungnya ke mana-mana. Dan di tengah kelelahan itu, diam-diam muncul pertanyaan yang tidak berani diucapkan keras-keras: apakah ada sesuatu yang belum saya pahami dari takdir ini? Pertanyaan itu manusiawi. Bukan dosa. Bahkan para nabi pun pernah merasakan beratnya kesempitan. Yang berbeda adalah ke mana pertan...

Dari Qarun ke Influencer: Evolusi Istidraj Sepanjang Zaman

Gambar
Dari Qarun ke Influencer: Evolusi Istidraj Sepanjang Zaman Kajian Al-Qur’an, hadis, tafsir ulama salaf, dan psikologi modern tentang nikmat, popularitas, dan hati yang perlahan menjauh dari Allah. Oleh: Tsaqif Rasyid Dai persadani.org | 30 Mei 2026 — 13 Dzulhijjah 1447 H Ketika Semua Tampak Baik-Baik Saja Ada masa ketika hidup terasa makin “jadi.” Pekerjaan berkembang. Penghasilan meningkat. Nama mulai dikenal, bahkan dihormati. Aktivitas bertambah padat, dan di mana-mana orang menyambut dengan apresiasi. Dari luar, semuanya tampak seperti tanda-tanda keberkahan. Namun diam-diam, di sudut hati yang paling sunyi, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: mengapa hati justru terasa makin lelah? Mengapa ibadah yang dulu ringan kini terasa berat? Mengapa semakin banyak yang diraih, semakin sulit merasa cukup? Mungkin sebagian dari kita pernah merasakannya, meski tidak selalu berani mengakuinya. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda kelemahan. J...

Bolehkah Menunda Salat karena Sibuk?

Gambar
Persadani.org  ·  Kajian Fiqih & Tazkiyatun Nafs Bolehkah Menunda Salat karena Sibuk? Hukum Menunda Salat karena Kerja, Kuliah, dan Produktivitas Modern Oleh Tsaqif Rasyid Dai | Persadani.org | 29 Mei 2026  ·  12 Dzulhijjah 1447 H Meeting belum selesai. Deadline tinggal sejam. Grup kantor tidak berhenti berbunyi. Azan berkumandang—dan dalam hati terlintas: nanti dulu. Sebagian orang tidak sedang sengaja meremehkan salat. Mereka justru sedang berusaha bertahan: mengejar target, menjaga pekerjaan agar tidak hilang, menyelesaikan studi, memenuhi tanggung jawab keluarga. Itu semua nyata. Dan bukan kesalahan semata. Problemnya menjadi rumit ketika kondisi itu perlahan berubah—dari situasi mendesak yang kadang terjadi, menjadi kebiasaan yang tidak lagi disadari. Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia a...

Utang Kecil yang Diremehkan

Gambar
Utang Kecil yang Diremehkan ‣ Mengapa Islam Sangat Serius Membahas Hak Sesama Manusia Oleh Tsaqif Rasyid Dai persadani.org — 29 Mei 2026 / 12 Dzulhijjah 1447 H Dosa yang tampak ringan di dunia, tetapi sangat berat di akhirat. Ada yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Ada hal-hal kecil yang anehnya tidak pernah benar-benar pergi. Bukan karena nilainya besar. Tetapi karena hati — sehalus apapun ia — diam-diam tahu: ada yang belum selesai. Barangkali kita pernah mengalaminya. Ada pinjaman kecil yang suatu hari kita lupa kembalikan. Atau memang kita ingat — hanya saja selalu ada alasan untuk menundanya. "Nanti saja." "Sebentar lagi." "Dia juga belum nagih." Dan anehnya, semakin lama, hal kecil itu justru semakin sulit dilupakan. Bukan utangnya yang berat. Tetapi rasa "punya tanggungan" itulah yang menjadi beban — diam-diam menguras ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada kegelisahan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Dan mun...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya