Postingan

GENERASI RABBANI (Seri 3)

III. KARAKTERISTIK INTERNAL GENERASI RABBANI Setelah kita memahami fondasi spiritual yang menjadi pondasi Generasi Rabbani, kini saatnya kita menyelami lebih dalam tentang karakteristik internal yang membentuk kepribadian mereka. Bayangkan seperti pohon: akarnya adalah iman dan kedekatan dengan Al-Qur'an, batangnya adalah ilmu dan hati yang bersih. Tanpa batang yang kuat, pohon akan mudah roboh meski akarnya dalam. Di zaman sekarang, kita sering menemukan fenomena menarik: banyak orang yang pintar secara akademis, gelarnya bertumpuk, hafalan dalilnya banyak, tapi akhlaknya... well , masih jauh dari kata "Rabbani". Ada juga yang rajin ibadah, tapi hatinya masih dipenuhi penyakit: dengki, sombong, haus pujian. Nah, Generasi Rabbani berbeda. Mereka memadukan ilmu dengan akhlak, kecerdasan dengan kebersihan hati. A. Ilmu yang Membentuk Akhlak 1. Konsep Ilmu dalam Perspektif Rabbani Pernah nggak sih kalian merasa overwhelmed dengan banyaknya teman yang pamer IPK, ...

Self-Diagnosis dan Penyalahgunaan Istilah Kesehatan Mental

Jiwa yang Jernih, Diagnosis yang Benar: Refleksi Kesehatan Mental dalam Cahaya Islam ~ Antara Kesadaran, Klaim Tanpa Ilmu, dan Fitrah yang Seimbang ~ Generasi muda kini tumbuh dalam lautan informasi. Satu geseran jari di media sosial, puluhan konten psikologi berseliweran— anxiety , OCD , bipolar , trauma . Istilah-istilah yang dulu hanya dikenal di ruang kuliah psikologi, kini menjadi baju keseharian. Tak salah jika kesadaran kesehatan mental naik drastis. Tapi ada ironi yang menganga: ketika label diagnosis dipakai tanpa verifikasi, self-diagnosis merebak, bahkan bacaan tarot di TikTok dikemas sebagai “terapi alternatif”. Dari kaca mata psikologi kontemporer, ini disebut concept creep (Haslam, 2016). Batas antara kesedihan biasa dan depresi klinis mengabur. Istilah seperti trauma dipakai untuk pengalaman ringan. Di sinilah kita perlu jeda. Islam mengajarkan bahwa setiap penyakit ada penawarnya, dan menuntut ilmu adalah kewajiban. Termasu...

GENERASI RABBANI (Seri 2)

II. FONDASI SPIRITUAL GENERASI RABBANI Bayangkan sebuah bangunan megah. Betapapun indahnya arsitektur, betapapun canggihnya teknologi yang digunakan, jika fondasinya rapuh, bangunan itu akan roboh. Begitu pula dengan manusia. Generasi Rabbani adalah manusia dengan fondasi spiritual yang kokoh—iman yang hidup, bukan sekadar label. A. Iman yang Hidup ( Living Faith ) 1. Dari Teori ke Realitas Berapa banyak dari kita yang hafal rukun iman enam, tapi hati masih gelisah? Berapa banyak yang bisa menyebutkan 99 nama Allah, tapi perilaku tidak mencerminkan penghambaan? Ini adalah paradoks generasi modern: Islam sebagai identitas, bukan sebagai way of life . Iman yang hidup ( living faith ) bukan tentang hafalan atau warisan keluarga. Iman yang hidup adalah keyakinan yang merasuk ke dalam jiwa, menggerakkan perilaku, dan menjadi remote control kehidupan sehari-hari. الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ "Ihsan ada...

Memahami Hakikat Hubungan yang Meracuni Jiwa dan Penyembuhannya Secara Islam

Mengenali Hubungan Toxic dan Jalan Penyembuhan: Perspektif Psikologi dan Spiritual Islam Dalam kehidupan manusia, hubungan antarindividu merupakan salah satu aspek fundamental yang membentuk kesejahteraan psikologis dan spiritual kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an,   وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً   "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang" (QS. Ar-Rum: 21). Namun realitas menunjukkan, tidak semua hubungan membawa mawaddah (محبة - kasih sayang) dan rahmah (رحمة - kelembutan). Ada hubungan yang justru meracuni jiwa, mengikis harga diri, dan menjauhkan seseorang dari fitrahnya sebagai makhluk mulia ciptaan Allah. Dalam psikologi kontemporer, fenomena ini dikenal sebagai toxic relationship — ...

Keluar dari Mental Permisif: Meneguhkan Batas Tanpa Kehilangan Kelembutan

Keluar dari Mental Permisif: Meneguhkan Batas Tanpa Kehilangan Kelembutan Pernahkah kamu merasa bersalah hanya karena berkata “tidak”? Atau membiarkan sesuatu yang jelas salah—hanya karena takut dianggap tidak ramah? Jika iya, mungkin kamu sedang berhadapan dengan mental permisif : pola pikir yang terlalu mudah membolehkan segala hal demi kenyamanan sesaat, menghindari konflik, atau sekadar ingin disukai. Mental permisif bukan soal baik hati. Ia adalah kebiasaan menoleransi yang keliru hingga batas antara benar dan salah menjadi kabur. Dalam jangka panjang, ini bisa mengikis ketajaman hati, merusak karakter, bahkan menjauhkan kita dari nilai-nilai yang seharusnya kita pegang teguh. Tanda-Tanda Mental Permisif Berikut gejala umum yang sering tak disadari: Terlalu menoleransi yang salah “Ah, semua orang juga begitu…” — padahal tahu itu keliru. Tak enakan berlebihan Sulit menolak, takut menegur, selalu mengalah agar dianggap “baik”. Standar moral fleksibel ...

GENERASI RABBANI (Seri 1)

Generasi Rabbani: Manusia yang Terhubung dengan Allah dalam Ruh, Akal, dan Jasad I. Pendahuluan A. Ketika Ibadah Terasa Hambar: Fenomena Generasi Kita Pernahkah kamu merasa seperti ini: shalat lima waktu sudah rutin, puasa Ramadhan tidak pernah bolong, bahkan shalat malam sesekali dikerjakan. Tapi entah kenapa, hati terasa kosong. Selesai shalat, pikiran langsung kembali ke drama media sosial. Baca Al-Qur'an tapi tidak paham apa-apa, sekadar menggugurkan kewajiban. Bahkan terkadang, ritual ibadah terasa seperti rutinitas membosankan—bukan momen intim dengan Sang Pencipta. Ini bukan cerita fiksi. Ini adalah potret banyak pemuda Muslim hari ini. Menurut penelitian Pew Research Center (2021), lebih dari 60% Muslim generasi muda mengaku "secara teknis Muslim" tetapi tidak merasakan koneksi spiritual yang kuat dengan agamanya. Di Indonesia sendiri, survei Alvara Research (2023) menunjukkan bahwa 47% remaja Muslim merasa ibadah mereka hanya formalitas, tanpa dampak ny...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...