Postingan

Benarkah Memberi Pinjaman Lebih Mulia 18 Kali dari Sedekah?

Benarkah Memberi Pinjaman Lebih Mulia 18 Kali dari Sedekah? Oleh: Nuraini Persadani Ada sebuah kalimat yang kerap beredar di grup-grup WhatsApp, di pengajian, bahkan dari lisan ke lisan di majelis-majelis ilmu: "Memberi pinjaman pahalanya 18 kali lipat dibanding sedekah." Sekilas kalimat ini terasa indah, seolah menjadi kabar gembira bagi siapa saja yang pernah menolong saudaranya dengan meminjamkan harta. Tapi, benarkah angka itu berasal dari Nabi ﷺ? Dan jika pun lemah, apakah pinjaman memang memiliki kedudukan yang agung dalam Islam? Mari kita telusuri bersama — dengan hati yang terbuka dan berpijak pada ilmu. Hadits Itu Ada — Namun Perlu Dicermati Riwayat tentang "18 kali lipat" ini memang tercatat dalam kitab-kitab hadits klasik. Berikut teksnya: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ. فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ، مَا بَالُ الْقَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ الص...

Perang Iran vs Israel-AS — Hari ke-52: Kapal Touska Disita, Hormuz Kembali Ditutup, Islamabad Talks 2.0 di Ujung Tanduk

Perang Iran vs Israel-AS — Hari ke-52: Kapal Touska Disita, Hormuz Kembali Ditutup, Islamabad Talks 2.0 di Ujung Tanduk Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Selasa, 21 April 2026 Gencatan senjata dua minggu yang dimulai 8 April 2026 kini berada di ujung tanduk. Setelah AS menyita kapal kargo Iran M/V Touska di perairan dekat Selat Hormuz pada 19–20 April, Iran langsung menutup kembali Selat Hormuz dan menyebut tindakan itu sebagai "perompakan bersenjata." Sementara itu, Islamabad Talks putaran kedua belum memiliki jadwal pasti — dan batas waktu gencatan senjata diperkirakan jatuh Rabu, 22 April 2026. Peta Krisis Terkini Pada 19–20 April 2026, kapal perang AS USS Spruance menyita kapal kargo Iran M/V Touska di dekat Selat Hormuz dengan alasan Iran dianggap melanggar blokade. Iran menyebut aksi ini "maritime armed robbery" dan segera menutup kembali Selat Hormuz — jalur strategis yang menanggung sekitar 20% perdagangan m...

Antara Selamanya dan Esok: Cara Islam Mengajarkan Kita Hidup

Antara Selamanya dan Esok: Cara Islam Mengajarkan Kita Hidup Nuraini Persadani Ada sebuah kalimat yang beredar luas di khazanah umat Islam, terukir di dinding pesantren, dikutip dalam ceramah, diposting di media sosial dengan latar pemandangan dan tipografi indah: "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok." Kalimat ini terasa seperti petir dalam keheningan. Ia mengguncang sekaligus menentramkan. Ia menantang sekaligus membimbing. Namun sebelum kita menyelami maknanya, ada satu hal yang perlu diluruskan dengan jujur: kalimat ini bukan hadis sahih dari Nabi ﷺ. Para ulama hadis tidak menemukan sanad yang kuat menyandarkannya kepada Rasulullah ﷺ. Sebagian menisbatkannya sebagai atsar dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, namun sanadnya pun tidak kokoh. Ia lebih tepat disebut sebagai hikmah — mutiara kebijaksanaan yang mengalir dalam literatur adab dan zuhud. Namun p...

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka Sebuah muhasabah untuk hati yang pernah retak, namun masih ingin pulang Oleh : Tsaqif Rasyid Dai  Di tengah riuh zaman yang tak pernah lelah mengasah kekecewaan, mencintai karena Allah terasa seperti membawa sebutir permata di tangan yang lecet. Bukan karena cinta itu menyusahkan, melainkan karena kita telah terlalu sering belajar menutup luka dengan tembok, lalu mengira itulah satu-satunya cara bertahan. Luka yang Menyimpan Rahmat Allah ﷻ berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10) Persaudaraan bukan berarti tanpa retak. Justru di sela-sela retakan itulah cahaya pengertian turun. Kadang yang kita sebut luka, hanyalah bayangan ekspektasi yang patah. Kita merawatnya dalam diam, lalu menjadikannya alasan pelan-pelan untuk menutup pintu ukhuwah. "Cinta karena Allah tidak...

Guncangan di Pompa Bensin: Apa Arti Kenaikan BBM Nonsubsidi bagi Kita?

Guncangan di Pompa Bensin: Apa Arti Kenaikan BBM Nonsubsidi bagi Kita? Oleh: Nuraini Persadani | Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Sejak 18 April 2026, antrian di SPBU di beberapa kota mendadak lebih panjang dari biasanya. Bukan karena kelangkaan — melainkan karena kepanikan kecil yang khas: orang-orang bergegas mengisi tangki sebelum harga benar-benar naik. Yang sudah terlambat, langsung merasakan sengatan di dompet mereka. PT Pertamina resmi menaikkan harga tiga jenis BBM nonsubsidi sekaligus, efektif 18 April 2026. Kenaikannya bukan kecil-kecilan. Berapa Angkanya? Berikut perubahan harga BBM Pertamina untuk wilayah DKI Jakarta dan Pulau Jawa. Harga di luar Jawa bisa lebih tinggi beberapa ratus hingga ribuan rupiah per liter karena faktor distribusi. Jenis BBM Harga Lama (Rp/liter) Harga Baru (Rp/liter) Selisih Pertalite (RON 90) — subsidi 10.000 10.000 Tetap Pert...

Gencatan Senjata di Ambang Runtuh: Hormuz, Kapal Touska, dan Nasib Perundingan Pakistan

Gencatan Senjata di Ambang Runtuh: Hormuz, Kapal Touska, dan Nasib Perundingan Pakistan Reportase Harian Perang Iran vs. Israel–AS | Edisi 20 April 2026 Oleh: Nuraini Persadani Kedamaian yang Menipu Di atas permukaan, gencatan senjata masih berdiri. Namun di bawahnya, ketegangan mendidih seperti air yang hampir meluap. Selat Hormuz kembali menjadi episentrum konflik setelah Angkatan Laut AS menyita kapal kargo Iran bernama Touska yang mencoba menerobos blokade laut. Tehran menyebut tindakan itu "pembajakan bersenjata" dan bersumpah akan membalasnya. Sementara itu, delegasi AS tiba di Islamabad untuk putaran kedua perundingan — namun Iran belum memastikan kehadirannya. Inilah laporan lengkap perkembangan 20 April 2026. Api di Selat Hormuz: Insiden Kapal Touska Penyitaan kapal Touska oleh Angkatan Laut AS menjadi pemicu ketegangan terbaru yang paling serius sejak gencatan senjata dimulai pada sekitar 8 April 2026. Kapal berbendera Iran itu disita saat mencoba melew...

Jejak Air Mata yang Tak Pernah Jatuh di Sajadah

Shalat: Saat Hati Akhirnya Pulang  Oleh: Tsaqif Rasyid Dai  Ada satu ruang dalam diri kita yang tak pernah benar-benar sepi. Di balik ritme gerakan yang kita kenal sebagai kewajiban, tersimpan sebuah undangan yang lebih dalam: sebuah pertemuan. Shalat bukan sekadar rangkaian bacaan dan sujud. Ia adalah jalan pulang bagi jiwa yang lelah berkelana. Para ulama salaf menyebut kehadiran dalam pertemuan itu dengan satu kata yang lembut namun sangat dalam: khusyu’ . Bukan sekadar menundukkan kepala, melainkan menundukkan seluruh diri. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menggambarkan asalnya dengan kalimat yang menyentuh kalbu: “Asal khusyu’ adalah kelembutan hati, ketenangannya, ketundukannya, kehancurannya, dan kebakaran (kegelisahan karena takut dan cinta) di dalamnya. Apabila hati telah khusyu’, maka seluruh anggota badan pun akan mengikuti khusyu’ tersebut.” Ketika hati benar-benar merasakan kehangatan itu, gerakan tubuh tak lagi menjadi beban. Ia ...

Hati yang Mati di Tengah Aktivisme

Hati yang Mati di Tengah Aktivisme Ketika Sibuk Dakwah tapi Kosong Ruh Oleh: Nuraini Persadani Ada satu pemandangan yang menyayat — dan banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya diam-diam. Seorang aktivis Islam. Jadwalnya penuh. Agenda rapat, kajian, program sosial, konten dakwah, koordinasi panitia. Ia berbicara tentang Allah di panggung, lalu pulang ke rumah dalam kesunyian yang aneh — tidak merasakan apa-apa. Shalatnya tegak, tapi hatinya tidak hadir. Lisannya menyebut nama-Nya, tapi batinnya kosong seperti gelas yang retak. Ia tahu banyak tentang Islam. Tapi lupa bagaimana merasakannya . أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28) Tetapi bagaimana hati bisa ingat , jika ia tidak pernah diberi jeda untuk merasakan? Amal Tanpa Kehadiran Hati Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengingatkan dengan keras: amal yang tidak disertai kehadiran hati adalah sep...

Strategi Militer Iran dalam Perang 2026: Asymmetric Warfare dan Seni Bertahan Melawan Superioritas

Strategi Militer Iran dalam Perang 2026: Asymmetric Warfare dan Seni Bertahan Melawan Superioritas Oleh : Nuraini Persadani Ketika AS-Israel melancarkan Operation Epic Fury pada 28 Februari 2026 — termasuk membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei — banyak analis Barat memprediksi Iran akan runtuh dalam hitungan hari. Tujuh minggu kemudian, Iran masih meluncurkan rudal ke Israel, Hormuz terganggu, dan Washington terpaksa menegosiasikan ceasefire . Apa yang membuat Iran mampu bertahan? Jawabannya bukan pada superioritas senjata, melainkan pada doktrin yang telah dirancang puluhan tahun: Asymmetric Warfare — perang asimetris yang dirancang bukan untuk menang secara militer langsung, melainkan untuk menaikkan biaya perang hingga musuh kehilangan kemauan politik dan ekonomi untuk melanjutkan. Doktrin Inti: Decentralized Mosaic Defence Pilar utama strategi Iran adalah Decentralized Mosaic Defence (DMD) — arsitektur komando yang dirancang untuk tetap berfungsi bahkan setelah ke...

Hormuz Ditutup Lagi, Ceasefire Ditolak Diperpanjang: Perang Iran–Israel–AS Kembali ke Titik Kritis

Hormuz Ditutup Lagi, Ceasefire Ditolak Diperpanjang: Perang Iran–Israel–AS Kembali ke Titik Kritis Oleh: Nuraini Persadani | 19 April 2026 "Ketika Selat Hormuz kembali ditutup dan Trump menolak memperpanjang gencatan, dunia tahu bahwa jeda perang yang berlangsung dua minggu ini belum menjadi jalan menuju damai — ia hanya menjadi nafas sebelum ronde berikutnya." Hari ke-51: Eskalasi Baru di Hari yang Seharusnya Menentukan Ahad, 19 April 2026. Lima puluh satu hari sejak Operation Epic Fury memulai perang pada 28 Februari, situasi yang dua hari lalu terasa sedang bergerak menuju de-eskalasi kini berbalik arah dengan kecepatan yang mengejutkan. Tiga perkembangan dalam dua puluh empat jam terakhir telah menghapus hampir semua optimisme yang terbangun sejak gencatan senjata dimulai. Pertama , Iran kembali menutup Selat Hormuz — menembaki kapal-kapal dagang yang berusaha melintas. Kedua , Presiden Trump secara tegas menolak memperpanjang gencatan senjata yang berakhir ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya