Postingan

Setelah Tak Lagi Menjadi Musuh

Gambar
Setelah Tak Lagi Menjadi Musuh Tentang ilmu yang mengubah arah, nikmat keamanan dalam Surah Quraisy, dan perjalanan membersihkan mutatharrif di dalam diri ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Ada masa ketika dua orang bertemu sebagai lawan. Yang satu melihat yang lain sebagai ancaman terhadap negara. Yang lain memandangnya sebagai bagian dari kekuasaan yang harus dilawan. Lalu waktu berjalan. Pada Minggu, 30 Agustus 2026, ribuan mantan anggota Jamaah Islamiyah berkumpul di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam acara Syukuran Kemerdekaan RI ke-81 dan silaturahmi bersama Kapolri. Pertemuan itu menarik bukan semata karena jumlah orang yang hadir. Ada sesuatu yang lebih manusiawi di sana. Orang-orang yang dahulu berada pada dua sisi yang berhadapan kini duduk bersama. Dalam pertemuan itu muncul ungkapan Jawa yang sederhana: “Saduluran saklawase.” Menjadi saudara untuk selamanya. Tentu sebuah kalimat tidak serta-merta menghapus sejarah. Jabat tangan juga tidak otomatis menyelesaikan s...

Ketika AI Bisa Menjawab, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia?

Gambar
Ketika AI Bisa Menjawab, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia? Refleksi tentang Akal Imitasi, kecerdasan buatan, dan masa depan pendidikan manusia ✒️ Tsaqif Rasyid Dai 🌐 persadani.org Tahun 2029 sebenarnya tidak terlalu jauh. Dalam film Akal Imitasi , tahun itu menjadi latar sebuah dunia pendidikan yang telah hidup berdampingan dengan sistem kecerdasan buatan bernama PIKO. Teknologi masuk ke sekolah, membantu proses belajar, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan tentang kesenjangan, karakter, dan apa yang sesungguhnya sedang kita sebut pendidikan. Film itu belum perlu kita hakimi sebelum menontonnya. Tetapi pertanyaan yang dibawanya sudah berada di hadapan kita sekarang. Hari ini seorang pelajar dapat meminta kecerdasan buatan merangkum buku yang belum selesai ia baca. Ia dapat meminta mesin menyusun esai, membuat presentasi, menerjemahkan teks, menjelaskan rumus, mencari kesalahan dalam kode komputer, bahkan membangun argumentasi tentang suatu persoalan. Dalam hitungan deti...

Negara Tidak Cukup Mewariskan Simbol

Gambar
Negara Tidak Cukup Mewariskan Simbol Tentang Ibn Khaldun, Pancasila, maqashid al-syariah, dan generasi yang menjaga semangat sebuah bangsa ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Ada sesuatu yang sering luput ketika kita berbicara tentang negara. Kita mudah menghitung usianya. Kita mengingat tanggal lahirnya. Kita menghafal dasar negaranya. Kita mengenali lambangnya, menyanyikan lagunya, dan mengulang cita-cita yang dahulu melahirkan perjuangan panjang. Tetapi sebuah negara tidak hidup hanya karena semua itu masih ada. Ia hidup karena ada manusia yang terus menjaga makna di baliknya. Sebuah bangsa dapat tetap memiliki konstitusi yang sama, simbol yang sama, dan slogan yang sama, tetapi perlahan kehilangan ruh yang dahulu membuat semuanya berarti. Di titik itulah pertanyaan tentang keberlangsungan negara sebenarnya menjadi pertanyaan tentang generasi. Ketika Generasi Berubah Ibn Khaldun melihat negara dan dinasti seperti sesuatu yang hidup. Ia lahir dari kekuatan, tumbuh melalui solidaritas, mencapai kem...

Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri

Gambar
Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri Tentang kebencian, ego, dan jiwa yang perlahan kehilangan rahmah ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Ada teror yang mudah kita kenali. Ia datang dengan ancaman, kekerasan, darah, dan ketakutan. Kita dapat melihat akibatnya, menghitung korbannya, lalu menyebutnya sebagai bahaya. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sunyi. Tidak terdengar ledakan. Tidak ada sirene. Tidak ada kepanikan. Bahkan orang lain mungkin tidak mengetahui bahwa sesuatu sedang terjadi. Ia tumbuh perlahan di dalam dada. Mulanya hanya ketidaksukaan. Kemudian menjadi prasangka. Prasangka yang terus diberi makan dapat menjadi kebencian. Kebencian membuat kita semakin mudah melihat keburukan orang lain. Lalu pada suatu titik, kita tidak lagi sekadar membenci perbuatannya—kita mulai merendahkan manusianya. Dan yang paling mengkhawatirkan, semua itu kadang terjadi ketika kita masih merasa sebagai orang baik. Ketika Kebencian Mengubah Cara Kita Melihat Manusia Tidak setiap kemarahan adalah kebenc...

Ketika Kebenaran Tidak Lagi Membuat Kita Rendah Hati

Gambar
Ketika Kebenaran Tidak Lagi Membuat Kita Rendah Hati Renungan tentang ilmu, ego, dan tawaduk di hadapan Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu keadaan yang sesungguhnya lebih berbahaya daripada sekadar tidak mengetahui kebenaran: kita mengetahui kebenaran, tetapi pengetahuan itu diam-diam membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kita membawa ayat. Kita membawa hadis. Argumen kita barangkali benar. Tetapi perlahan-lahan kita mulai sulit menerima nasihat, sulit mengakui kekeliruan, mudah meremehkan orang yang berbeda pendapat, dan diam-diam senang ketika lawan bicara kita dipermalukan. Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang layak kita renungkan bersama: bagaimana mungkin kebenaran yang datang dari Allah justru membuat seorang hamba merasa besar? Barangkali yang sedang membesar bukan kebenarannya. Barangkali ego kitalah yang sedang berdiri di belakang kebenaran itu, memakai bajunya, meminjam wibawanya. Islam sama sekali tidak mengajarkan keraguan terhadap kebe...

Ketika Cinta kepada Nabi ﷺ Berjalan Bersama Langkah Kaki

Gambar
Ketika Cinta kepada Nabi ﷺ Berjalan Bersama Langkah Kaki Melampaui Air Mata Maulid Menuju Transformasi Diri Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bulan Rabiul Awal kembali menyapa. Shalawat berkumandang, majelis-majelis sirah dipenuhi air mata, dan hati kita kembali diajak mengenang kehidupan Rasulullah ﷺ. Namun di tengah hangatnya perayaan cinta itu, ada satu pertanyaan sunyi yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: apa tanda bahwa cinta itu benar-benar hidup, bukan sekadar emosi musiman yang datang setiap Rabiul Awal lalu menguap ketika majelis bubar? Dalam Islam, cinta kepada Nabi ﷺ tidak dirancang hanya sebagai rasa yang menggenang di dada. Ia memiliki arah dan konsekuensi. Cinta yang sejati tidak hanya membuat kita ingin dekat dengan Nabi ﷺ, tetapi juga membuat kita rela membiarkan petunjuk beliau mengoreksi dan membentuk diri kita. Al-Qur'an memberikan rumus yang tajam, indah, sekaligus menggelisahkan: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّه...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...