Postingan

Syarah Hadis Afsyus Salam: Empat Amalan Pembuka Jalan ke Surga

Gambar
Syarah Hadis Afsyus Salam: Empat Amalan Pembuka Jalan ke Surga Mengapa Menebarkan Salam, Memberi Makan, Menyambung Silaturahim, dan Qiyamul Lail Menjadi Nasihat Pertama Nabi di Madinah? Oleh : Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 7 Juni 2026 — 21 Dzulhijjah 1447 H Kita hidup di zaman yang aneh. Tidak pernah dalam sejarah manusia, orang begitu mudah terhubung. Satu sentuhan jari bisa mengirim kabar ke ujung benua. Satu unggahan bisa dilihat ribuan orang dalam hitungan menit. Grup keluarga penuh notifikasi. Linimasa penuh suara. Tetapi di saat yang sama, banyak orang merasa semakin kesepian. Rumah-rumah penuh penghuni, namun miskin percakapan yang sungguh-sungguh. Kita hafal wajah artis yang belum pernah kita temui, tetapi lupa menelepon paman yang tinggal satu kota. Kita bisa memblokir seseorang hanya dalam satu detik — tetapi memulihkan hati yang patah kadang memerlukan bertahun-tahun. Dunia menjadi semakin terkoneksi. Tetapi hati terasa semakin terisolasi. Baran...

Mengapa Emosi Sering Mengalahkan Iman?

Gambar
Mengapa Emosi Sering Mengalahkan Iman? Memahami Konflik antara Hati, Akal, dan Hawa Nafsu dalam Diri Manusia Oleh : Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 7 Juni 2026 — 21 Dzulhijjah 1447 H Kita tahu marah berlebihan itu salah. Namun tetap marah. Kita tahu iri hati merusak. Namun tetap iri. Kita tahu Allah mengatur segalanya. Namun tetap cemas berlebihan. Kita tahu dunia ini sementara. Namun kehilangan sedikit saja sudah bisa membuat hati gelisah berhari-hari. Jika iman sudah mengetahui kebenaran — mengapa emosi sering memenangkan pertarungan? Inilah salah satu pertanyaan paling jujur yang bisa diajukan seorang mukmin kepada dirinya sendiri. Bukan pertanyaan yang melemahkan iman, melainkan pertanyaan yang membuka pintu pemahaman yang lebih dalam tentang jiwa manusia. Dan tazkiyatun nafs — ilmu penyucian jiwa yang diwariskan para ulama selama berabad-abad — menjawabnya dengan cara yang tidak sederhana, tetapi sangat menyentuh. Ketika Pengetahuan Tidak Cukup Kit...

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa

Gambar
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا لّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 6 Juni 2026 - 20 Dzulhijjah 1447 H Prolog: Ketika Tombak Sudah Terlanjur Meluncur Pagi itu, di tanah Juhainah, pertempuran berlangsung singkat. Pasukan kaum muslimin menyerang di waktu fajar dan berhasil memukul mundur musuh. Usamah bin Zaid — sahabat mulia, putra dari Zaid bin Haritsah yang dijuluki hibbu Rasulillah , kekasih Rasulullah ﷺ — mengejar seorang prajurit musuh bersama seorang sahabat Anshar. Ketika sudah terkepung, ketika tidak ada jalan lagi, laki-laki itu mengucapkan: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Sahabat Anshar itu menghentikan langkahnya. Namun tombak Usamah terlanjur meluncur. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bertanya dengan nada yang sangat berat: أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ أَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ؟ Aqataltahu ba'da an qāla lā ilāha illallāh? "Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...