Ojo Dumeh: Sebab Hari-Hari Itu Dipergilirkan
Ojo Dumeh: Sebab Hari-Hari Itu Dipergilirkan Pagi itu ia masih duduk sebagai seorang pejabat tinggi negara. Di hadapannya ada mikrofon, berkas-berkas, dan orang-orang yang mendengarkan penjelasannya. Di tengah rapat, sebuah kabar datang. Ia meninggalkan ruangan. Tidak lama kemudian, jabatan itu telah beralih kepada orang lain. Begitulah dunia memperlihatkan wataknya. Kadang ia tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan betapa dekat jarak antara “sedang menjabat” dan “pernah menjabat”, antara orang yang ditunggu kedatangannya dan orang yang kursinya telah ditempati penggantinya. Orang Jawa mempunyai pitutur sederhana untuk keadaan semacam ini: ojo dumeh . Jangan mentang-mentang. Bukan berarti jangan menjadi kaya, pemimpin, orang berilmu, atau menikmati keberhasilan. Ojo dumeh adalah peringatan agar sesuatu yang sedang berada dalam genggaman tidak membuat kita lupa bahwa ia dapat berpindah. Jangan karena hari ini berkuasa lalu merasa akan selalu berkuasa, karena har...