Postingan

Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah?

Gambar
Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah? Jalan Pulang dari Kebisingan Dunia Menuju Khashyah, Muhasabah, dan Kelembutan Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bismillahirrahmanirrahim. Kita hidup di zaman ketika manusia tidak kehilangan air mata. Kita masih menangis karena kehilangan, tersentuh oleh kisah, terharu oleh video, bahkan larut dalam drama yang hanya berlangsung beberapa menit di layar. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang lebih sunyi: kapan terakhir kali air mata kita jatuh karena takut kepada Allah? Kita sesungguhnya tidak perlu belajar bagaimana cara menangis. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana menghidupkan kembali hati. Manusia modern barangkali tidak kekurangan air mata. Ia kekurangan ruang batin untuk merasakan Allah. Ibnu Qayyim rahimahullah membedakan berbagai jenis tangisan: tangisan kasih sayang, tangisan takut dan pengagungan, tangisan cinta dan kerinduan, tangisan kegembiraan, tangisan kesedihan, hingga tangisan yang tidak lahir da...

Ketika Hati Meminta Petunjuk: Memahami Hidayah Al-Qur'an

Gambar
Ketika Hati Meminta Petunjuk: Memahami Hidayah Al-Qur'an Antara Mengetahui Kebenaran, Menerimanya, Menyucikan Jiwa, dan Istiqamah di Atasnya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap kali seorang mukmin berdiri dalam shalat dan membaca Surah Al-Fatihah, ada satu permohonan yang tidak pernah absen: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. "Tunjukilah kami jalan yang lurus." Permohonan ini diulang berkali-kali dalam sehari, bahkan oleh orang yang telah beriman. Mengapa seorang mukmin masih terus meminta hidayah, padahal ia telah mengenal Islam, telah mengucapkan syahadat, dan telah mengetahui jalan yang harus ditempuh? Karena hidayah bukan sesuatu yang cukup ditemukan sekali, lalu selesai. Hidayah adalah karunia yang harus dicari, diterima, dijaga, dipelihara, dan terus dimohonkan agar Allah meneguhkan hati di atasnya hingga akhir hayat. Dalam perjalanan seorang hamba, hidayah bukan sekadar mengetahui mana...

Mengapa Mayoritas Muslim Indonesia Bermazhab Syafi'i?

Gambar
Mengapa Mayoritas Muslim Indonesia Bermazhab Syafi'i? Jejak Samudra Hindia, Jaringan Ulama, Pesantren, dan Tradisi Keilmuan yang Membentuk Islam Indonesia Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus belajar dari keluasan khazanah keilmuan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang mengikuti jalan beliau hingga akhir zaman. Jika seseorang tumbuh di lingkungan pesantren, madrasah, surau, atau majelis taklim di Indonesia, hampir pasti ia akrab dengan nama Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i. Kitab-kitab fiqh yang dipelajari, tata cara bersuci dan shalat, pembahasan zakat, puasa, haji, hingga berbagai persoalan muamalah, banyak yang dijelaskan melalui kerangka Mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i menjadi dominan di Indonesia bukan karena Indonesia "memil...

Wara' di Era Digital: Menjaga Hati Setelah Pulang

Gambar
Wara' di Era Digital: Menjaga Hati Setelah Pulang Setelah Pulang, Bagaimana Kita Menjaga Hati agar Tidak Tersesat Lagi? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sesuatu yang aneh pada zaman kita. Kita hidup dalam masa ketika ilmu agama begitu mudah dijangkau, tetapi pada saat yang sama hampir segala sesuatu yang dahulu sulit ditemukan kini dapat hadir hanya dengan satu sentuhan layar. Satu sentuhan dapat mengantarkan kita kepada kajian ulama dari berbagai penjuru dunia. Namun, sentuhan berikutnya pada layar yang sama dapat membawa kita kepada sesuatu yang merusak pandangan, mengusik ketenangan, atau perlahan-lahan mengeraskan hati. Inilah salah satu paradoks manusia modern: kita semakin dekat dengan segala sesuatu, tetapi belum tentu semakin dekat dengan kemampuan untuk menahan diri. Barangkali karena itu, seseorang yang telah menemukan jalan pulang kepada Allah membutuhkan satu kemampuan lagi: kemampuan untuk tetap berada di jalan pulang itu. Di titik inilah wara' menjadi penting un...

Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya

Gambar
Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya Refleksi Tazkiyatun Nufus dan Parenting Islam di Hari Anak Nasional Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap 23 Juli, bangsa ini merayakan Hari Anak Nasional. Namun tahun ini, perayaan itu berdampingan dengan sebuah kabar yang menyayat: ratusan anak di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat harus menikah dini setelah hamil di luar nikah, sebuah rentetan kasus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: bagaimana anak-anak kita bertumbuh, siapa yang menemani mereka ketika menghadapi perubahan dalam dirinya, dan apakah mereka memiliki ruang yang aman untuk bertanya, bercerita, dan belajar menjaga diri. Dan sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu ditegaskan: tidak semua anak yang mengalami kehamilan di usia dini berada dalam situasi yang sama. Ada yang terjerumus karena ketidaktahuan, ada yang berada dalam relasi yang tidak se...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya