Postingan

Mengapa Nabi Daud Tetap Bekerja? Hikmah Kerja Halal dan Bahaya Mental Instan Menurut Islam

Gambar
Mengapa Nabi Daud Tetap Bekerja? Hikmah Kerja Halal dan Bahaya Mental Instan Menurut Islam Tazkiyatun Nafs dalam Perspektif Turats Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Persadani.org | Kamis, 4 Dzulhijjah 1447 H / 21 Mei 2026 Kita hidup di zaman yang mengagungkan hasil, tetapi membenci proses. Semakin cepat seseorang kaya, semakin ia dikagumi. Semakin singkat jalan yang ditempuh menuju kemakmuran, semakin dianggap cerdas. Dan di antara kita sendiri, entah disadari atau tidak, ada sebuah godaan yang terus berbisik: mengapa harus melalui proses panjang jika ada jalan yang lebih pendek? Ada orang yang sebenarnya tidak malas. Ia hanya lelah. Sudah lama berjuang, tetapi pintu tidak kunjung terbuka. Ada yang tidak anti proses—ia hanya terlalu sering menyaksikan orang lain naik dengan cara yang tidak bersih, lalu bertanya-tanya apakah kejujuran benar-benar masih ada gunanya. Dan di saat seperti itu, jalan pintas mulai tampak masuk akal. Bahkan terasa seperti pilihan yang bijak. Anehnya, seoran...

Kita Hanya Melihat Potongan Cerita

Gambar
Kita Hanya Melihat Potongan Cerita Hikmah Ulama Salaf untuk Era Cancel Culture dan Komentar Media Sosial Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026 Pernah merasa marah setelah menonton satu video 30 detik? Kita melihat seseorang berbicara — lalu langsung tahu: dia salah. Dia sesat. Dia tidak paham agama. Kita mengetik komentar dengan keyakinan penuh, dengan perasaan bahwa kita sedang membela kebenaran. Padahal kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi lima menit sebelum video itu dimulai. Tidak tahu konteksnya. Tidak tahu perjalanan hidup orang itu. Tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Ini bukan cerita tentang orang lain. Ini cerita tentang kita semua — termasuk penulis artikel ini. Mungkin masalah terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu. Bukan kurangnya orang yang mau bersuara. Masalah terbesarnya adalah terlalu cepatnya rasa yakin. Terlalu mudahnya kita merasa sudah cukup tahu untuk menghakimi. Para ulama menyebut penyakit ini dengan ber...

حبُّ المحمدة: Syahwat Tersembunyi Ahli Ibadah dalam Hadits Tiga Golongan Pertama Penghuni Neraka

Gambar
حبُّ المحمدة: Syahwat Tersembunyi Ahli Ibadah dalam Hadits Tiga Golongan Pertama Penghuni Neraka Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Persadani.org | 3 Dzulhijjah 1447 H / 20 Mei 2026 Ada hadits yang tidak mungkin dibaca dengan tenang. Bukan karena temanya asing. Justru sebaliknya — karena temanya terlalu dekat dengan keseharian kita sebagai orang yang mencoba beragama dengan sungguh-sungguh. Di zaman media sosial, hampir semua orang hidup di bawah tatapan manusia. Kita menghitung respons: siapa melihat, siapa menyukai, siapa memuji, siapa mengakui. Bahkan amal agama perlahan ikut masuk ke logika performa — kajian diukur berapa views, sedekah diposting, tilawah dibagikan, dakwah dihitung engagement-nya. Dalam suasana seperti ini, ada satu hadits yang terasa semakin mengerikan untuk dibaca. Karena ia tidak berbicara tentang orang-orang yang meninggalkan agama. Ia berbicara tentang orang-orang yang sangat giat beragama — dan justru karena kegiatannya itu, mereka celaka. Hadits itu ...

Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir QS. Asy-Syams 9–10

Gambar
Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir QS. Asy-Syams 9–10 Kajian Tafsir, Diksi Qur'ani, dan Perspektif Ulama tentang Penyucian Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai 2 Dzulhijjah 1447 H / 19 Mei 2026 Mengapa ada orang yang sangat cerdas, memiliki segalanya — karir gemilang, harta berlimpah, nama yang dihormati — namun hatinya tak pernah benar-benar tenang? Dan mengapa ada yang hidupnya sederhana, jauh dari gemerlapnya dunia, tetapi wajahnya memancarkan kedamaian yang sulit dijelaskan? Mengapa manusia bisa jatuh bukan karena kekurangan ilmu, bukan karena miskin pengalaman, bukan karena tak cukup usaha — tetapi karena ia kehilangan dirinya sendiri? Al-Qur'an menjawab semua itu dalam dua ayat yang pendek namun luar biasa padat: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Qad aflaḥa man zakkāhā. Wa qad khāba man dassāhā. "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9–10) Dua kalima...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya