Postingan

Mengapa Ramadhan Terasa Hampa

Mengapa Ramadhan Terasa Hampa — dan Bagaimana Membuatnya Hidup Lagi Ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menghantui banyak orang dewasa Muslim ketika memasuki Ramadhan: mengapa dulu bulan ini terasa begitu magis, sementara sekarang terasa biasa saja? Bukan karena imannya hilang. Bukan karena malas. Tapi karena kita tumbuh, dunia berubah, dan tanpa sadar kita kehilangan sesuatu yang sangat penting — the quality of presence , kehadiran yang utuh dan sadar di dalam momen ibadah. Artikel ini bukan daftar tips klise "perbanyak shalat dan tilawah." Ini adalah undangan untuk berpikir lebih dalam: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita setiap Ramadhan, dan apa yang bisa kita lakukan — secara konkret dan bermakna — untuk menemukan kembali cahaya bulan ini. Diagnosis: Ramadhan yang Kehilangan Ruh Dalam tradisi intelektual Islam, para ulama membedakan antara syariat (aspek lahiriah ibadah) dan hakikat (ruh atau inti terdalam dari ibadah itu). Imam Al-Ghazal...

Muraqabah Bukan Kecemasan, Bukan Paranoia Spiritual

Mendidik Hati untuk Selalu Muraqabah — Merasa Diawasi Allah dalam Setiap Detak Kehidupan Ada sebuah momen yang pernah dialami hampir setiap manusia: ketika sendirian di ruangan gelap, tidak ada seorangpun yang tahu apa yang sedang kamu lakukan — dan tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, kamu berhenti. Ada sesuatu di dalam dada yang berbisik: tapi Allah tahu. Itulah muraqabah (المراقبة). Bukan rasa takut yang membekukan. Bukan paranoia spiritual. Ia adalah kesadaran yang hidup — bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian, bahwa setiap napas, setiap niat, setiap bisikan jiwa diketahui oleh Dzat yang menciptakan jiwa itu sendiri. Pertanyaannya bukan apakah kita percaya Allah Maha Mengawasi. Hampir semua Muslim percaya itu secara kognitif. Pertanyaan yang jauh lebih dalam — dan jauh lebih jujur — adalah: apakah keyakinan itu sudah turun dari kepala ke hati? Apakah ia sudah mengubah cara kita berbicara saat tidak ada yang mendengar, cara kita bekerja saat tidak ada yang menilai,...

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah?

Mengapa Indonesia Memakai Pancasila, Bukan Piagam Madinah? Telaah Fiqh Siyasah dan Realitas Sejarah dalam Perspektif Wasathiyah Ir. H. Djunaidi Permata Pendahuluan: Meluruskan Arah Pertanyaan Pertanyaan "Mengapa Ulama Indonesia memakai Pancasila, bukan Piagam Madinah?" sering diajukan dengan asumsi bahwa Piagam Madinah adalah bentuk negara Islam yang baku, sementara Pancasila dipersepsikan sebagai kompromi politik yang menjauh dari syariat. Asumsi ini tampak religius, tetapi secara metodologis keliru. Kesalahan utamanya bukan terletak pada semangat beragama, melainkan pada cara memahami wilayah ajaran Islam antara prinsip yang bersifat tetap — yang dalam ilmu ushul fiqh disebut tsawabit — dan ruang ijtihad yang bersifat dinamis, yakni mutaghayyirat . Islam tidak datang untuk membakukan satu bentuk negara, melainkan untuk menanamkan nilai-nilai ilahiah yang wajib diwujudkan dalam kehidupan sosial dan politik sesuai dengan kemampuan dan konteks umat. Karena itu...

Qana'ah — Kekayaan yang Tidak Pernah Bisa Dicuri Dunia

Qana'ah — Kekayaan yang Tidak Pernah Bisa Dicuri Dunia Ada seseorang yang pernah bercerita kepada saya — seorang pria paruh baya, bukan miskin, bukan pula kaya raya. Ia punya rumah, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat. Tapi setiap malam ia susah tidur. Bukan karena sakit. Bukan karena hutang. Ia susah tidur karena terus memikirkan tetangganya yang baru beli mobil baru, rekan kerjanya yang baru naik jabatan, dan adik iparnya yang baru pulang umrah untuk ketiga kalinya. "Saya tidak tahu kenapa," katanya pelan, "hidup saya tidak kurang. Tapi saya selalu merasa kurang." Kalimat itu menghantam keras. Bukan karena asing — justru karena sangat familiar. Karena sebagian besar dari kita pernah, atau mungkin sedang, merasakannya. Inilah paradoks terbesar manusia modern: semakin banyak yang dimiliki, semakin besar rasa kekurangan yang dirasakan. Dan Islam — jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang hedonic treadmill dan comparison trap — sudah menawarka...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya