Postingan

Al-Ḥārith al-Muḥāsibī: Imam Muhasabah dan Penjaga Hati dalam Tradisi Islam Klasik

Gambar
Al-Ḥārith al-Muḥāsibī: Imam Muhasabah dan Penjaga Hati dalam Tradisi Islam Klasik Dari Basrah ke Baghdad, Seorang yang Bergulat dengan Hatinya Sendiri dan Mewariskannya kepada Peradaban Oleh: Nuraini Persadani Ada ulama yang terkenal karena fatwanya. Ada yang dikenang karena kekuasaannya. Namun ada seorang ulama yang dikenang bukan karena satu pun dari itu — melainkan karena keberaniannya mengadili dirinya sendiri setiap malam, dalam kegelapan yang ia pilih sendiri. Ia adalah Al-Ḥārith bin Asad al-Muḥāsibī . Para penulis tasawuf klasik sering menggambarkannya sebagai "penjaga hati" dan "dokter penyakit batin" — bukan sekadar julukan sastra, melainkan cerminan dari seluruh orientasi hidupnya. Fondasi yang ia letakkan kemudian dikembangkan oleh Imam Al-Junaid dan disistematisasikan secara luas oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin . Catatan redaksi: Sebagian fragmen dalam artikel ini berasal dari kitab-kitab manaqib dan tabaqat yang ditulis untuk me...

Status Sindiran: Apakah Termasuk Ghibah?

Gambar
Status Sindiran: Apakah Termasuk Ghibah? Ketika Luka Hati Berubah Menjadi Konten — Membaca Fenomena Adab Lisan Digital melalui Tazkiyatun Nufus, Turats, dan Psikologi Modern Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Seseorang baru saja merasa dikecewakan oleh sahabat dekatnya. Alih-alih menegur langsung, ia membuka aplikasi, mengetik beberapa kalimat, lalu menekan tombol unggah: "Untuk yang merasa, segera sadar ya. Allah Maha Melihat segalanya." Tidak ada nama yang disebut. Tidak ada wajah yang ditandai. Namun entah bagaimana, beberapa orang di lingkaran pertemanan langsung tahu siapa yang dimaksud. Fenomena ini begitu akrab di linimasa kita hari ini: status sindiran, story dengan caption ambigu, repost dengan komentar pedas yang muncul tepat setelah sebuah konflik. Banyak yang merasa cara ini lebih aman karena tidak menyebut nama secara langsung. Namun pertanyaannya, apakah cara ini benar-benar membersihkan hati, ataukah justru memindahkan dosa lisan ke ruang yang lebih luas dan leb...

AS dan Iran Umumkan Kesepakatan Damai, Penandatanganan Dijadwalkan 19 Juni di Jenewa

Gambar
AS dan Iran Umumkan Kesepakatan Damai, Penandatanganan Dijadwalkan 19 Juni di Jenewa Setelah 107 hari perang, kesepakatan masih menunggu ratifikasi resmi—sementara front Lebanon belum benar-benar tenang Oleh: Nuraini Persadani Amerika Serikat dan Iran pada Minggu (14/6) mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk menghentikan perang yang telah berlangsung 107 hari sejak 28 Februari 2026. Jika benar-benar diimplementasikan, kesepakatan ini dapat mengakhiri salah satu konflik paling berbahaya di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir, sekaligus meredakan krisis energi global yang terjadi sejak Selat Hormuz terganggu. Namun, penandatanganan resmi baru dijadwalkan pada 19 Juni di Jenewa, Swiss. Dan situasi di lapangan—khususnya di Lebanon—menunjukkan bahwa jalan menuju gencatan senjata yang utuh masih panjang. 1. Ringkasan Cepat AS dan Iran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Penandatanganan resmi dijadwalkan Jumat, ...

Wara' di Tengah Perebutan Perhatian

Gambar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ Wara' di Tengah Perebutan Perhatian Ketika Hati Menjadi Medan yang Paling Diperebutkan di Zaman Algoritma Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Syubhat dan syahwat bukanlah tamu baru dalam kehidupan manusia. Keduanya telah berjalan bersama anak Adam sejak awal sejarah. Yang berubah bukan hakikatnya, melainkan cara keduanya mengetuk pintu hati. Dahulu, syubhat sering datang melalui bisikan, desas-desus, atau pembicaraan di sudut pasar. Syahwat datang melalui apa yang tertangkap pancaindra: yang dilihat mata, yang didengar telinga, yang tersentuh tangan. Hari ini, keduanya bisa datang dari satu tempat yang sama — sebuah layar kecil yang hampir selalu berada dalam genggaman. Namun ada satu fakta sederhana yang sering terlewat begitu saja. Syubhat tidak dapat memengaruhi sesuatu yang tidak kita perhatikan. Syahwat tidak dapat menguasai sesuatu yang tidak kita fokuskan. Maka boleh jadi, medan pertempuran terbesar zaman ini bukan lagi sekadar perebutan...

Syubhat, Syahwat, dan Notifikasi

Gambar
Syubhat, Syahwat, dan Notifikasi Mengapa Kita Sulit Menemukan Kejernihan di Era yang Serba Terkoneksi? Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Tidak pernah dalam sejarah manusia kita memiliki akses terhadap informasi sebanyak hari ini. Dalam hitungan detik, kita dapat membaca tafsir, mendengar ceramah, mengikuti diskusi global, bahkan bertanya hampir apa saja kepada mesin pencari yang tidak pernah tidur dan tidak pernah merasa lelah menjawab. Kemudahan itu nyata. Aksesnya tak terbantahkan. Namun secara paradoks, kemudahan itu tidak selalu menghasilkan kejernihan. Sebaliknya, banyak orang justru merasa semakin bingung di tengah banjir informasi. Semakin reaktif ketika membaca berita. Semakin mudah terseret arus opini yang berganti-ganti setiap hari. Semakin sulit memusatkan perhatian pada hal yang benar-benar penting, bahkan untuk sekadar duduk tenang dan berpikir jernih. Dan di sisi lain, kita juga hidup di zaman yang menawarkan kemudahan pemenuhan keinginan secara instan. Apa pu...

Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok"

Gambar
Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok" Membaca Ulang QS. Al-Hasyr: 18 di Tengah Hidup yang Penuh Rencana Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18) Kita hidup di zaman yang sangat gemar membuat perencanaan. Ada yang menyiapkan target bulanan, menyusun rencana lima tahun, bahkan menghitung tabungan pensiun sejak usia muda. Kita diajarkan untuk memikirkan masa depan dengan serius, terencana, dan terukur. Namun anehnya, semakin jauh kita merencanakan hidup, semakin jarang kita bertanya satu hal yang paling mendasar: Apa yang sebenarnya sedang saya persia...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya