Postingan

Qana'ah — Kekayaan yang Tidak Pernah Bisa Dicuri Dunia

Qana'ah — Kekayaan yang Tidak Pernah Bisa Dicuri Dunia Ada seseorang yang pernah bercerita kepada saya — seorang pria paruh baya, bukan miskin, bukan pula kaya raya. Ia punya rumah, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat. Tapi setiap malam ia susah tidur. Bukan karena sakit. Bukan karena hutang. Ia susah tidur karena terus memikirkan tetangganya yang baru beli mobil baru, rekan kerjanya yang baru naik jabatan, dan adik iparnya yang baru pulang umrah untuk ketiga kalinya. "Saya tidak tahu kenapa," katanya pelan, "hidup saya tidak kurang. Tapi saya selalu merasa kurang." Kalimat itu menghantam keras. Bukan karena asing — justru karena sangat familiar. Karena sebagian besar dari kita pernah, atau mungkin sedang, merasakannya. Inilah paradoks terbesar manusia modern: semakin banyak yang dimiliki, semakin besar rasa kekurangan yang dirasakan. Dan Islam — jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang hedonic treadmill dan comparison trap — sudah menawarka...

Ketika Semangat Ramadhan Meredup di Tengah Jalan: Memahami Rasa Malas dan Bosan, Lalu Bangkit Darinya

Gambar
Ketika Semangat Ramadhan Meredup di Tengah Jalan: Memahami Rasa Malas dan Bosan, Lalu Bangkit Darinya Ada sebuah momen yang hampir semua orang pernah rasakan, meski jarang diakui dengan lantang: pertengahan Ramadhan terasa begitu berbeda dari awalnya. Hari-hari pertama membara — tarawih diikuti dengan khusyuk, tilawah mengalir deras, hati terasa bersih, dan setiap doa terasa dekat dengan langit. Namun perlahan, tanpa tanda-tanda yang jelas, semuanya mulai berubah. Langkah menuju masjid terasa lebih berat. Qur'an tergeletak di rak tanpa disentuh. Sahur dilakukan setengah tidur, iftar ditunggu dengan lebih banyak lapar daripada makna. Dan dalam hati kecil, terselip pertanyaan yang menyakitkan: "Ke mana perginya semangat itu?" Ini bukan kelemahan karakter. Ini bukan tanda bahwa seseorang tidak cukup beriman. Ini adalah pengalaman manusiawi yang nyata, yang bahkan diakui dalam khazanah keilmuan Islam dan psikologi modern. Artikel ini hadir bukan untuk menghakimi, mela...

Al-Qur'an di Tanganmu, tapi Sudahkah Ia Masuk ke Dadamu

Gambar
Ketika Ramadhan Berbicara kepada Jiwa — Belajar Berinteraksi dengan Al-Qur'an dari Salafus Shalih di Era Digital Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan setiap kali bulan suci itu tiba: Sudahkah kita benar-benar hadir bersama Al-Qur'an, atau kita hanya melewatinya? Ramadhan dan Al-Qur'an adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Allah subhanahu wa ta'ala sendiri yang mengabadikan hubungan itu dalam firman-Nya: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ "Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." — QS. Al-Baqarah: 185 Ayat ini bukan sekadar informasi historis. Ia adalah undangan — undangan agar di bulan inilah kita kembali kepada Al-Qur'an dengan sepenuh jiwa. Dan untuk memahami bagaimana seharusnya kita menyambut...

Ramadhan, Momentum Terbaik untuk Transformasi Karakter

Gambar
Ramadhan, Momentum Terbaik untuk Transformasi Karakter Setiap tahun ia datang. Setiap tahun kita menyambutnya. Tapi berapa banyak dari kita yang keluar dari Ramadhan sebagai manusia yang sungguh-sungguh berbeda? Bukan sekadar lebih kurus karena puasa, bukan sekadar lebih hafal doa-doa karena sering dibaca — melainkan benar-benar berubah di tingkat karakter, di level kepribadian yang paling dalam? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ia adalah undangan untuk jujur kepada diri sendiri sebelum Ramadhan tiba, agar kita tidak hanya mengulangi ritual yang sama dengan hasil yang sama pula. Karena Ramadhan, di dalam al-Qur'an dan Sunnah, tidak pernah dirancang sekadar sebagai bulan ibadah musiman. Ia adalah laboratorium transformasi jiwa — sebuah lingkungan yang Allah rancang secara sangat khusus, dengan kondisi-kondisi yang paling kondusif untuk perubahan karakter yang nyata dan berkelanjutan.   Mengapa Karakter, Bukan Sekadar Amalan? Kita sering memahami Ramad...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya