Postingan

Tidakkah Engkau Ingin Allah Mengampunimu?

Gambar
Tidakkah Engkau Ingin Allah Mengampunimu? Perjalanan Hati dari Dendam Menuju Al-'Afwu, Ash-Shafh, dan Al-Maghfirah Di suatu malam yang sunyi, seorang lelaki berbaring dengan mata terbuka. Bukan karena sakit. Bukan karena lapar. Tetapi karena wajah itu kembali hadir — wajah seseorang yang pernah menyakitinya bertahun-tahun silam. Kata-kata lama terputar ulang. Rasa sakit yang dikira telah pergi ternyata masih berdiam di sudut yang paling dalam dari dadanya. Inilah penjara yang paling sunyi: tubuh bebas, tetapi hati masih terikat kepada orang yang telah lama berlalu. Yang membuat seseorang tidak bisa tidur bukan selalu orang yang masih ada di hadapannya. Kadang yang membuatnya gelisah adalah seseorang yang telah pergi bertahun-tahun lalu, tetapi masih diberi tempat tinggal di dalam hatinya — tanpa izin, tanpa bayar sewa, dan tanpa pernah sadar bahwa ia ditinggali. Itulah yang disebut dendam. Dan artikel ini bukan hanya tentang memaafkan. Ia tentang pembebasan — dari pe...

Muharram dan Anak Yatim: Ketika Tangan Memberi, Hati Sedang Disucikan

Gambar
Muharram dan Anak Yatim: Ketika Tangan Memberi, Hati Sedang Disucikan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada bulan yang datang dengan membawa dua undangan sekaligus: undangan untuk mendekat kepada Allah melalui puasa, dan undangan untuk mendekat kepada sesama melalui kasih sayang. Bulan itu adalah Muharram. Rasulullah ﷺ bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ Afdhalush-shiyāmi ba'da Ramadhāna syahrullāhil Muharram, wa afdhalush-shalāti ba'dal farīdhati shalātul lail. "Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim, no. 1982, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadis shahih.) Muharram bukan bulan yang sekadar menandai pergantian tahun Hijriah. Ia adalah bulan Allah — syahrullah — yang mengundang setiap mukmin untuk kembali kepada dirinya yang pal...

Malu yang Hilang di Era Serba Tampil: Ketika Hati Kehilangan Kompasnya

Gambar
Malu yang Hilang di Era Serba Tampil: Ketika Hati Kehilangan Kompasnya Di tengah budaya eksposur dan validasi digital, rasa malu bukan kelemahan — ia adalah kompas batin yang mulai terlupakan, dan para ulama kita telah membicarakannya jauh sebelum kita kehilangan arah. Seorang pemuda menghapus unggahannya beberapa menit setelah diposting. Bukan karena salah informasi. Bukan karena ada yang memprotes. Foto itu mendapatkan ratusan tanda suka, puluhan komentar pujian, dan validasi yang selama ini dicarinya. Namun setelah layar ponselnya padam, ada sesuatu yang tidak ikut bertambah. Ketenteraman. Ada yang terasa aneh. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu cara menamainya. Paradoksnya, di zaman ketika hampir semua orang ingin terlihat, semakin banyak orang yang diam-diam merasa kehilangan dirinya sendiri. Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan keberanian untuk tampil, tetapi jarang mengajarkan kapan seseorang perlu menahan diri. Kita dididik tentang personal branding ,...

Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya

Gambar
Tazkiyatun Nufus · Persadani Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya Mencari Mahabbah Ilahi di Tengah Dunia yang Haus Validasi dan Pengakuan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai  |  Persadani.org Kita hidup di zaman yang haus pengakuan. Sebuah foto diunggah, lalu mata terus kembali memeriksa berapa yang menyukainya. Sebuah pendapat disampaikan, lalu hati menunggu siapa yang membenarkan. Tanpa disadari, kebahagiaan kita telah tergantung pada satu pertanyaan sederhana yang setiap hari kita ajukan kepada dunia: apakah aku diterima? Kita mengejar cinta pasangan, mengharap pengakuan teman, mendambakan penghargaan atasan. Hidup terasa bermakna ketika diapresiasi, dan terasa hampa ketika diabaikan. Padahal ada pertanyaan lain yang lebih dalam dan lebih menentukan — pertanyaan yang justru jarang kita ajukan: "Bagaimana jika yang paling penting bukan siapa yang kita cintai, melainkan siapa yang mencintai kita?" Pertanyaan ini bukan baru. Para ulama telah merenungkannya berabad-aba...

Hijrah yang Sesungguhnya:perjalanan hati dan jiwa dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah.

Gambar
Hijrah yang Sesungguhnya: perjalanan hati dan jiwa dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah Menyelami makna hijrah dalam perspektif Al-Qur'an, hadis, dan tazkiyatun nufus sebagai jalan mendekat kepada Allah.   Ada pertanyaan yang lebih mendesak dari sekadar "sudah berapa tahun usiamu?" — sebuah pertanyaan yang jarang berani kita hadapi dengan jujur saat memasuki tahun baru Hijriah: sudah sejauh mana hatimu berhijrah menuju Allah? Muharram hadir bukan sebagai hari raya. Ia hadir sebagai cermin. Dan cermin yang baik tidak berbohong. Ketika Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bermusyawarah dengan para sahabat untuk menetapkan penanggalan Islam, mereka memilih peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah sebagai titik tolak. Bukan kelahiran beliau. Bukan pula turunnya wahyu pertama. Ini bukan kebetulan. Para sahabat memahami bahwa hijrah adalah peristiwa yang paling mewakili hakikat perjalanan seorang mukmin: meninggalkan sesuatu demi sesuatu yang ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...