Postingan

Parenting Islam dalam Surat Luqman Ayat 12–19: Integrasi Tafsir Klasik dan Psikologi Modern dalam Mendidik Anak

Gambar
Parenting Islam dalam Surat Luqman Ayat 12–19: Integrasi Tafsir Klasik dan Psikologi Modern dalam Mendidik Anak Oleh: Tsaqif Rasyid Dai  |  Persadani.org   Jika sebagian besar teori parenting modern dimulai dengan pertanyaan "Bagaimana membuat anak berhasil?" — maka Surat Luqman dimulai dengan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: "Bagaimana membentuk manusia yang mengenal Tuhannya?" Dari sanalah seluruh pendidikan bertumbuh. Ada sebuah percakapan yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an — bukan percakapan raja dengan rakyatnya, bukan guru dengan muridnya di hadapan khalayak. Tetapi percakapan seorang ayah dengan anaknya. Lelaki yang bernama Luqman, duduk bersama buah hatinya dan berbicara dari lubuk hati yang paling dalam. Delapan ayat — dari QS Luqman ayat 12 hingga 19 — merangkum sebuah kurikulum parenting yang belum tertandingi oleh teori pendidikan mana pun hingga hari ini. Bukan karena Al-Qur'an sekadar "selangkah lebih maju" dari ilmu m...

Mengapa Kita Mudah Tersinggung? Antara Ego yang Terluka, Kibr Halus, dan Pencarian Harga Diri

Gambar
Mengapa Kita Mudah Tersinggung? Antara Ego yang Terluka, Kibr Halus, dan Pencarian Harga Diri Oleh: Tsaqif Rasyid Dai persadani.org | 31 Mei 2026 — 14 Dzulhijjah 1447 H Seorang karyawan menerima evaluasi tahunan yang sebagian besar positif. Atasannya memuji konsistensinya, menghargai dedikasinya, dan mengakui kontribusinya sepanjang tahun. Namun di antara semua itu, ada satu kalimat singkat: "Kadang kamu perlu lebih terbuka terhadap masukan dari rekan." Sepanjang perjalanan pulang, sembilan pujian itu menghilang entah ke mana. Yang tersisa hanya kalimat itu. Ia memutarnya berulang-ulang. Mencari-cari maksudnya. Merasa ada yang tidak adil. Hampir semua orang pernah mengalami versi yang berbeda dari pengalaman ini. Bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga dalam rumah tangga, pertemanan, organisasi, bahkan di kolom komentar media sosial. Satu kalimat yang terasa menusuk, dan seluruh hari pun berubah warnanya. Mengapa pikiran manusia sering mengabaikan sembilan puji...

Rezeki Seret atau Hati yang Tertutup? Muhasabah Sebelum Menyalahkan Takdir

Gambar
Rezeki Seret atau Hati yang Tertutup? Muhasabah Sebelum Menyalahkan Takdir Saat hidup terasa sempit, benarkah masalahnya hanya pada rezeki—atau ada ruang muhasabah yang perlu dibuka? Sebuah refleksi tentang takdir, keberkahan, dan kesehatan hati dalam perspektif Islam. Oleh: Tsaqif Rasyid Dai persadani.org | 30 Mei 2026 — 13 Dzulhijjah 1447 H Ketika Rezeki Terasa Seret: Mengapa Hidup Kadang Terasa Sempit? Sudah kerja keras. Sudah berusaha. Sudah tidak pernah diam. Tapi hasilnya terasa seperti air yang mengalir ke pasir—cepat meresap, tidak berbekas. Ada pintu yang tampaknya tertutup, meski berkali-kali diketuk. Ada jalan yang seolah buntu, meski sudah dicari ujungnya ke mana-mana. Dan di tengah kelelahan itu, diam-diam muncul pertanyaan yang tidak berani diucapkan keras-keras: apakah ada sesuatu yang belum saya pahami dari takdir ini? Pertanyaan itu manusiawi. Bukan dosa. Bahkan para nabi pun pernah merasakan beratnya kesempitan. Yang berbeda adalah ke mana pertan...

Dari Qarun ke Influencer: Evolusi Istidraj Sepanjang Zaman

Gambar
Dari Qarun ke Influencer: Evolusi Istidraj Sepanjang Zaman Kajian Al-Qur’an, hadis, tafsir ulama salaf, dan psikologi modern tentang nikmat, popularitas, dan hati yang perlahan menjauh dari Allah. Oleh: Tsaqif Rasyid Dai persadani.org | 30 Mei 2026 — 13 Dzulhijjah 1447 H Ketika Semua Tampak Baik-Baik Saja Ada masa ketika hidup terasa makin “jadi.” Pekerjaan berkembang. Penghasilan meningkat. Nama mulai dikenal, bahkan dihormati. Aktivitas bertambah padat, dan di mana-mana orang menyambut dengan apresiasi. Dari luar, semuanya tampak seperti tanda-tanda keberkahan. Namun diam-diam, di sudut hati yang paling sunyi, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: mengapa hati justru terasa makin lelah? Mengapa ibadah yang dulu ringan kini terasa berat? Mengapa semakin banyak yang diraih, semakin sulit merasa cukup? Mungkin sebagian dari kita pernah merasakannya, meski tidak selalu berani mengakuinya. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda kelemahan. J...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya