Postingan

Qadha dan Qadar dalam Perspektif Ulama Salaf dan Psikologi Modern: Dari Takdir Menuju Ketenangan Jiwa

Gambar
Qadha dan Qadar dalam Perspektif Ulama Salaf dan Psikologi Modern: Dari Takdir Menuju Ketenangan Jiwa Bagaimana ulama salaf memahami qadha dan qadar? Pelajari perspektif Imam Ahmad, Al-Ghazali, Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, Al-Hasan Al-Bashri, Al-Muhasibi, serta empat pilar iman kepada qadar, perbedaan ridha dan acceptance, dan panduan praktis tazkiyatun nafs Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 3 Juni 2026 – 17 Dzulhijjah 1447 H Mengapa Qadha dan Qadar Relevan di Era Modern? Di tengah derasnya arus modernitas yang menuntut manusia untuk selalu mengendalikan, merencanakan, dan mengoptimalkan segala aspek kehidupan, pertanyaan tentang takdir justru semakin mendesak untuk dijawab. Ketika kegagalan datang bertubi-tubi, ketika doa terasa tidak diijabah, ketika jalan yang sudah direncanakan tiba-tiba tertutup—kebanyakan orang modern tidak tahu harus berdiri di mana. Dua pilihan yang tersedia sama-sama menyakitkan: menyalahkan diri sendiri habis-habisan, atau menyerah kepa...

Mengapa Shalat Dimulai dengan "Allahu Akbar"?

Gambar
Mengapa Shalat Dimulai dengan "Allahu Akbar"? Ketika Takbir Menjadi Jalan Mengosongkan Hati dari Dunia dan Menghadirkan Allah dalam Kesadaran Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 3 Juni 2026 – 17 Dzulhijjah 1447 H Pernahkah Anda mengalami ini? Tubuh ada di satu tempat, tetapi pikiran ada di mana-mana. Sedang makan, memikirkan pekerjaan. Sedang bersama keluarga, memikirkan target. Sedang berlibur, memikirkan notifikasi. Bahkan saat hendak shalat pun, kepala masih membawa rapat yang belum selesai, tagihan yang belum dibayar, pesan yang belum dibalas, dan masa depan yang belum tentu terjadi. Ironisnya, kita hidup di zaman yang menawarkan begitu banyak cara untuk mengendalikan hidup, tetapi justru semakin banyak orang yang merasa hidupnya tidak terkendali. Di tengah dunia yang terus meminta perhatian kita, Islam menghadirkan satu kalimat yang sangat singkat: اللَّهُ أَكْبَرُ Allāhu Akbar. "Allah Maha Besar." Hanya dua kata. Namun mungkin it...

Anatomi Korupsi dalam Perspektif Tazkiyatun Nafs

Gambar
Anatomi Korupsi dalam Perspektif Tazkiyatun Nafs Mengapa Korupsi Tidak Dimulai dari Uang, tetapi dari Hati yang Kehilangan Qana'ah, Muraqabah, dan Amanah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada pertanyaan yang mengganggu, dan sering kita hindari justru karena terlalu dekat dengan diri kita sendiri. Mengapa seseorang yang sudah memiliki rumah mewah masih mencuri? Mengapa pejabat yang bergaji ratusan juta masih menerima suap? Mengapa orang yang pernah menangis saat dilantik, bersumpah di atas mushaf, justru menangis kembali di ruang sidang karena korupsi? Kita terbiasa menjawab: karena sistem lemah, karena pengawasan longgar, karena hukuman tidak menjerakan. Semua itu benar. Tetapi ada jawaban yang lebih dalam, yang para ulama tazkiyatun nafs sudah ajarkan jauh sebelum ada lembaga antikorupsi manapun di dunia. Korupsi, dalam pandangan mereka, bukanlah awal sebuah kejahatan. Ia adalah ujungnya. Sebelum selembar uang negara berpindah tangan, ada perjalanan panjang yang berlangsung ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...