Postingan

Kehilangan Rasa: Ketika Ibadah Tidak Lagi Menggetarkan

Kehilangan Rasa: Ketika Ibadah Tidak Lagi Menggetarkan Jiwa  Oleh : Tsaqif Rasyid Dai  Pernahkah merasakan saat berdiri di atas sajadah, lidah melafalkan ayat yang sama berulang kali, namun dada terasa seperti ruang kosong yang tidak menggetarkan hati? Tubuh bergerak sesuai urutan rakaat, tangan mengangkat dan sujud tepat waktu, suara keluar dengan tajwid yang fasih, tetapi batin hanya menjadi penonton yang lelah. Kita masih menjalankan ibadah, bahkan mungkin dengan konsistensi yang layak dipuji. Namun di balik ketaatan yang tampak utuh, ada keheningan yang mengusik: ketika ritual sudah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tidak lagi menyentuh jiwa. Kita tidak berhenti beribadah, kita hanya kehilangan rasa. Kondisi ini dalam bahasa tasawuf disebut qaswatul qalb, kekerasan atau mati rasa hati. Ia tidak datang sebagai gempa yang meruntuhkan segalanya dalam semalam. Ia merayap seperti debu yang menumpuk di kaca jendela, perlahan mengubah cahaya menjadi redup, hingga suatu hari kit...

Hormuz Tersumbat, Indonesia Menanggung: Perang Iran–Israel–AS dan Harga yang Dibayar Jauh dari Medan Tempur

Hormuz Tersumbat, Indonesia Menanggung: Perang Iran–Israel–AS dan Harga yang Dibayar Jauh dari Medan Tempur Oleh: Nuraini Persadani | 16 April 2026 "Perang tidak hanya memakan korban di garis depan. Ia mengirim tagihan ke seluruh dunia — lewat harga bensin, harga sembako, dan anggaran negara yang semakin terjepit." Hari ke-48: Blokade Menggigit, Diplomasi Belum Berbuah Rabu, 16 April 2026. Empat puluh delapan hari sejak Operation Epic Fury menyalakan perang pada 28 Februari, konflik Iran–Israel–AS memasuki fase di mana senjata memang tidak lagi berbicara keras — tetapi blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz berbicara lebih keras dari rudal mana pun terhadap perekonomian global. Ekspor minyak Iran dilaporkan terhenti sepenuhnya. Harga minyak mentah global sempat menembus US$ 120+ per barel . Dan di Jakarta, dampaknya sudah mulai terasa di pompa bensin dan keranjang belanja. Sementara itu, perundingan belum menemukan titik terang. Gencatan senjata berakhir sekit...

Terjebak Masa Lalu: Mengapa Sebagian Luka Tidak Pernah Sembuh?

Terjebak Masa Lalu: Mengapa Sebagian Luka Tidak Pernah Sembuh? Oleh: Nuraini Persadani Ada orang yang sudah bertahun-tahun meninggalkan sebuah peristiwa — namun peristiwa itu belum meninggalkan mereka. Ia sudah tidak membicarakannya. Sudah tidak menangis karenanya. Sudah belajar tersenyum di depan orang lain. Tapi di saat-saat tertentu — ketika sunyi datang, ketika ada kejadian kecil yang memicu ingatan, ketika malam terlalu panjang — luka itu kembali terasa segar, seolah baru kemarin terjadi. Inilah yang para psikolog sebut sebagai trauma : bukan sekadar kenangan buruk, melainkan luka yang tercetak di dalam sistem saraf, di dalam pola pikir, bahkan di dalam cara seseorang memandang Allah dan dirinya sendiri. Dan ini bukan kelemahan karakter. Ini adalah realitas batin yang nyata — dan Islam, dengan segala kedalaman turats-nya, tidak diam menghadapinya. Luka yang Membekas di Dalam Qalb Al-Qur'an menggunakan kata qalb ( قَلْب ) — hati — sebagai pusat seluruh kehidup...

Blokade Hormuz Hari Pertama Penuh: Tidak Ada Kapal Lolos, Diplomasi Berpacu dengan Waktu

Blokade Hormuz Hari Pertama Penuh: Tidak Ada Kapal Lolos, Diplomasi Berpacu dengan Waktu Oleh: Nuraini Persadani "Ketika blokade berdiri dan meja perundingan masih kosong, selisih antara gencatan senjata dan perang baru hanya sejarak satu provokasi." Hari ke-47: Antara Harapan dan Tepi Jurang Rabu, 15 April 2026. Empat puluh tujuh hari sejak rudal-rudal Operation Epic Fury merobek langit Teheran pada 28 Februari, konflik Iran–Israel–AS memasuki hari yang penuh kontradiksi: tidak ada pertempuran terbuka, namun tidak ada pula perdamaian yang nyata. Yang ada adalah blokade, ancaman, dan diplomasi yang berpacu dengan batas waktu — gencatan senjata berakhir sekitar 22 April, tinggal tujuh hari lagi. Hari ini menjadi hari pertama penuh operasional blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz, sejak resmi diberlakukan pada 13 April pukul 10.00 waktu AS Timur. Sementara itu, sinyal terbaru dari Washington dan Teheran membuka kemungkinan — masih tipis, namun nyata — bahwa ge...

Ketika Dosa Menjadi Indah: Estetika Al-Faahisyah di Era Visual

Ketika Dosa Menjadi Indah: Estetika Al-Faahisyah di Era Visual Ia membuka layarnya menjelang tengah malam. Bukan untuk mencari sesuatu yang buruk. Hanya scrolling, katanya dalam hati. Hanya melihat-lihat. Yang pertama muncul: sebuah video pendek dengan pencahayaan sinematik, warna-warna hangat yang terasa seperti lukisan. Seorang perempuan bergerak dengan anggun, bajunya mengikuti tubuhnya, lirik lagunya berbisik tentang kebebasan dan cinta. Ada 2,3 juta tanda suka. Di kolom komentar, orang-orang menulis: "aesthetic banget," "ini art beneran," "vibes-nya sempurna." Jarinya melanjutkan guliran. Sebuah film pendek: dua pasang kekasih bukan mahram, direkam dengan teknik sinematografi kelas festival, warna desaturated yang terasa puitis, musik latar instrumental yang menyentuh. Bukan film porno — jauh dari itu. Tapi setiap adegan membangun satu hal: bahwa hubungan tanpa ikatan adalah sesuatu yang indah, bahwa zina, bila dikemas dengan cukup seni, bisa ...

Hilangnya Haya’: Alarm Sunyi yang Mendahului Al-Faahisyah

Hilangnya Haya’: Alarm Sunyi yang Mendahului Al-Faahisyah Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Di balik cahaya layar yang tak pernah tidur, tersisa keheningan yang semakin berat kita tanggung. Kita mengunggah potongan jiwa ke ruang publik, berharap tepuk tangan virtual mampu menutupi lubang eksistensial yang tak kunjung bernama. Setiap kali jari menekan tombol kirim, ada bagian kecil dari diri yang seolah larut ke dalam arus tanpa nama, hingga perlahan kita lupa mana yang pantas ditutupi dan mana yang layak dipertahankan. Batas antara kejujuran dan pamer kian kabur, antara keberanian dan kecerobohan menipis tanpa kita sadari. Kita merayakan transparansi tanpa penyaring, padahal yang sebenarnya kita rindukan bukanlah keterbukaan, melainkan penjagaan. Ada sesuatu yang perlahan menguap dari ruang batin, sesuatu yang dulu menahan napas setiap kali langkah ingin melampaui kodratnya. Ia bernama haya’, rasa malu yang dulu menjadi benteng paling jujur bagi iman, kini kita gantikan dengan keberanian mene...

Gencatan Rapuh dan Blokade Hormuz: Api Perang Iran–Israel–AS Belum Padam

Gencatan Rapuh dan Blokade Hormuz: Api Perang Iran–Israel–AS Belum Padam Oleh: Nuraini Persadani "Gencatan senjata hanyalah jedah napas — bukan akhir dari kehendak untuk menghancurkan. Selama blokade Hormuz berdiri dan meja perundingan kosong, bara perang masih menyala di bawah abu." Perang yang Belum Selesai Empat puluh tujuh hari sejak rudal-rudal Operation Epic Fury menghantam Teheran pada 28 Februari 2026, konflik Iran–Israel–AS memasuki fase baru yang tidak kalah berbahaya: gencatan senjata yang rapuh, meja perundingan yang buntu, dan kini blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz. Dunia menyaksikan babak yang belum jelas ujungnya. Perang yang diawali serangan udara gabungan AS dan Israel ini telah merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta puluhan pejabat tinggi, menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer Iran, membakar Lebanon melalui eskalasi serangan Israel ke Hezbollah, dan menutup Selat Hormuz — jalur yang mengalirkan sekitar...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya