Postingan

9 Dzulhijjah: Hari Arafah sebagai Momentum Reset Ruhani Tahunan

Gambar
9 Dzulhijjah: Hari Arafah sebagai Momentum Reset Ruhani Tahunan Melampaui puasa sunnah: membaca hikmah Hari Arafah melalui perspektif Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rajab al-Hanbali tentang tazkiyatun nafs, muhasabah jiwa, dan kesempatan memulai ulang diri. Tsaqif Rasyid Dai | 9 Dzulhijjah 1447 H | persadani.org Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya berjalan, tetapi batinnya terasa tertinggal. Aktivitas padat, notifikasi tak henti, target terpenuhi satu per satu — namun hati seperti kehilangan arah. Di tengah keramaian yang tidak pernah benar-benar sunyi itu, seseorang mungkin bertanya dalam diam: ke mana sebenarnya hidup ini sedang menuju? Dalam tradisi Islam, ada satu hari yang seakan disiapkan khusus untuk berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan itu dengan jujur. Bukan sebagai ritual formal semata. Bukan sekadar mengisi kolom catatan ibadah. Hari itu adalah 9 Dzulhijjah — yang dikenal luas sebagai Hari Arafah . Dalam Islam, 9 Dzulhijjah atau Hari Arafa...

Haus Validasi: Ketika Riya' Berganti Medium

Gambar
Haus Validasi: Ketika Riya' Berganti Medium Membaca Kecemasan Modern melalui Kacamata Imam Al-Ghazali, Ulama Salaf, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Rajab Oleh : Tsaqif Rasyid Dai الْإِخْلَاصُ أَنْ لَا تَطْلُبَ عَلَى عَمَلِكَ شَاهِدًا غَيْرَ اللَّهِ "Ikhlas adalah ketika engkau tidak lagi mencari saksi atas amalmu selain Allah." — Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawā'id Pernah merasa sedikit kecewa ketika sebuah unggahan yang terasa bermakna ternyata sepi respons? Atau diam-diam mendapati diri lebih bersemangat melakukan sesuatu ketika ada yang melihat dibanding ketika sendirian? Atau mungkin bukan kecewa — hanya merasa sedikit tidak berarti. Berhenti sejenak. Mungkin ini bukan soal narsis. Mungkin kita sedang mengalami sesuatu yang jauh lebih manusiawi dari itu: ingin diakui . Dalam bahasa psikologi kontemporer, ini disebut validation seeking — kecenderungan menjadikan likes, respons, pujian, dan pengakuan sosial sebagai bahan bakar harga diri. Dalam bahasa p...

Apa Makna Qalbun Salīm di Zaman Distraksi?

Gambar
Apa Makna Qalbun Salīm di Zaman Distraksi? Hati yang Selamat di Tengah Dunia yang Tak Pernah Sunyi — Serial Atlas Hati Muslim Modern Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 24 Mei 2026 / 7 Dzulhijjah 1447 H Kita tahu lebih banyak tentang agama dibanding generasi-generasi sebelum kita. Ceramah tersedia di genggaman. Tafsir ada gratis. Kajian bisa diputar ulang kapan saja. Namun mengapa hati terasa semakin mudah gelisah? Mengapa Al-Qur'an terasa berat beberapa menit, sementara layar terasa ringan menemani berjam-jam? Mengapa setelah adzan berkumandang, tangan lebih cepat membuka ponsel daripada membuka mushaf? Mungkin masalah kita bukan kurang ilmu — melainkan hati yang semakin sulit utuh. Dan Al-Qur'an ternyata telah menjelaskan ukuran keselamatan sejak ribuan tahun silam: يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۞ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ "(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah den...

Bolehkah Ambisi Menjadi Kaya?

Gambar
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai 23 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H Bolehkah Ambisi Menjadi Kaya? Membedah Himmah , Hirsh , dan Thama' dalam Timbangan Islam Ada dua jenis Muslim yang sama-sama gelisah, namun karena alasan yang berlawanan. Yang pertama: ia bercita-cita tinggi, ingin sukses secara finansial, ingin mandiri, ingin punya kemampuan membantu orang banyak — tetapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. "Apakah menginginkan kekayaan itu tidak zuhud? Apakah aku terlalu mencintai dunia?" Yang kedua: ia mengejar uang siang dan malam, menjadikan kerja keras sebagai identitas, meminjam ayat-ayat Al-Qur'an untuk membenarkan ambisinya — dan berkata lantang, "Kan Islam tidak melarang kaya." Keduanya memerlukan jawaban yang jujur. Bukan sekadar pembenaran, bukan pula penyempitan yang membuat Islam tampak anti-kemajuan. Maka pertanyaan ini layak diajuka...

Adzan Masih Sama. Mengapa Hati Kita Berubah?

Gambar
Atlas Hati Muslim Modern — Seri 1 Adzan Masih Sama. Mengapa Hati Kita Berubah? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Adzan selesai. Video tetap berjalan. Jempol tetap bergerak. Rumah kembali biasa saja. Dan anehnya — tidak ada sesuatu yang terasa salah. Padahal mungkin — entah kapan — hati kita pernah lebih mudah bergerak. Dan hampir semua dari kita pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali. Bukan hanya saat sedang sibuk luar biasa. Tapi berulang — sampai pada titik di mana "sebentar lagi" terasa seperti jawaban yang wajar atas panggilan Allah. Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Ini untuk duduk bersama dan bertanya jujur kepada diri sendiri: sejak kapan adzan tidak lagi menggerakkan hati kita? Sesuatu yang Tampak Kecil Nabi ﷺ bersabda: إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ Idzā sami'tum al-mu'adzdzina faqūlū mitsla mā yaqūl. "Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan." (HR. Muslim no. 384, Ki...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya