Postingan

Hukum Allah atau Hukum Anda? Kritik terhadap Monopoli Kebenaran

Distingsi Wahyu dan Tafsir: Agama yang Mutlak, Pemahaman yang Relatif Dalam perjalanan spiritual dan intelektual umat Islam, seringkali muncul perdebatan yang menggelisahkan: apakah pemahaman kita terhadap agama sama absolutnya dengan agama itu sendiri? Pertanyaan ini bukan sekadar wacana akademis, melainkan menyentuh inti dari bagaimana kita bersikap terhadap perbedaan pendapat dan keragaman pemikiran dalam Islam. Wahyu sebagai Textus , Pemahaman sebagai Interpretatio Secara akademis dan filosofis, kita perlu memahami perbedaan fundamental antara wahyu ( textus ) dan pemahaman terhadap wahyu ( interpretatio ). Al-Qur'an sebagai kalam Allah adalah mutlak kebenarannya, abadi, dan sempurna. Namun ketika teks suci itu dibaca, dipahami, dan ditafsirkan oleh manusia, ia tak terhindarkan berubah menjadi "produk pemikiran" yang dipengaruhi oleh berbagai faktor: latar belakang sosiologis, konteks historis, kapasitas intelektual, bahkan pengalaman spiritual pribadi sang pem...

Integrasi Teologis-Sipil: Meretas Sinergi Islam, Kebangsaan, dan Fondasi Sipil Modern

Integrasi Teologis-Sipil: Meretas Sinergi Islam, Kebangsaan, dan Fondasi Sipil Modern Oleh: Ir. H. Djunaidi Permata "Islam tidak datang untuk mengasingkan umatnya dari kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi justru memberikan ruh dan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kokoh bagi peradaban sipil yang adil, bermartabat, dan penuh rahmat." Pendahuluan: Menemukan Harmoni Antara Iman dan Kebangsaan Dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, pertanyaan tentang hubungan antara identitas keagamaan dan kebangsaan telah menjadi tema yang selalu aktual. Apakah Islam dan kebangsaan bertentangan? Bisakah seorang Muslim menjadi warga negara yang baik sekaligus mukmin yang taat? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan lagi relevan jika kita memahami bahwa Islam, dalam esensinya, adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan, musyawarah, dan persaudaraan kemanusiaan. Diskursus mengenai hubungan Islam dan kebangsaan tidak lagi berkutat pada pertentangan, melainkan pada sinergi teolog...

GENERASI RABBANI (Seri 3)

III. KARAKTERISTIK INTERNAL GENERASI RABBANI Setelah kita memahami fondasi spiritual yang menjadi pondasi Generasi Rabbani, kini saatnya kita menyelami lebih dalam tentang karakteristik internal yang membentuk kepribadian mereka. Bayangkan seperti pohon: akarnya adalah iman dan kedekatan dengan Al-Qur'an, batangnya adalah ilmu dan hati yang bersih. Tanpa batang yang kuat, pohon akan mudah roboh meski akarnya dalam. Di zaman sekarang, kita sering menemukan fenomena menarik: banyak orang yang pintar secara akademis, gelarnya bertumpuk, hafalan dalilnya banyak, tapi akhlaknya... well , masih jauh dari kata "Rabbani". Ada juga yang rajin ibadah, tapi hatinya masih dipenuhi penyakit: dengki, sombong, haus pujian. Nah, Generasi Rabbani berbeda. Mereka memadukan ilmu dengan akhlak, kecerdasan dengan kebersihan hati. A. Ilmu yang Membentuk Akhlak 1. Konsep Ilmu dalam Perspektif Rabbani Pernah nggak sih kalian merasa overwhelmed dengan banyaknya teman yang pamer IPK, ...

Self-Diagnosis dan Penyalahgunaan Istilah Kesehatan Mental

Jiwa yang Jernih, Diagnosis yang Benar: Refleksi Kesehatan Mental dalam Cahaya Islam ~ Antara Kesadaran, Klaim Tanpa Ilmu, dan Fitrah yang Seimbang ~ Generasi muda kini tumbuh dalam lautan informasi. Satu geseran jari di media sosial, puluhan konten psikologi berseliweran— anxiety , OCD , bipolar , trauma . Istilah-istilah yang dulu hanya dikenal di ruang kuliah psikologi, kini menjadi baju keseharian. Tak salah jika kesadaran kesehatan mental naik drastis. Tapi ada ironi yang menganga: ketika label diagnosis dipakai tanpa verifikasi, self-diagnosis merebak, bahkan bacaan tarot di TikTok dikemas sebagai “terapi alternatif”. Dari kaca mata psikologi kontemporer, ini disebut concept creep (Haslam, 2016). Batas antara kesedihan biasa dan depresi klinis mengabur. Istilah seperti trauma dipakai untuk pengalaman ringan. Di sinilah kita perlu jeda. Islam mengajarkan bahwa setiap penyakit ada penawarnya, dan menuntut ilmu adalah kewajiban. Termasu...

GENERASI RABBANI (Seri 2)

II. FONDASI SPIRITUAL GENERASI RABBANI Bayangkan sebuah bangunan megah. Betapapun indahnya arsitektur, betapapun canggihnya teknologi yang digunakan, jika fondasinya rapuh, bangunan itu akan roboh. Begitu pula dengan manusia. Generasi Rabbani adalah manusia dengan fondasi spiritual yang kokoh—iman yang hidup, bukan sekadar label. A. Iman yang Hidup ( Living Faith ) 1. Dari Teori ke Realitas Berapa banyak dari kita yang hafal rukun iman enam, tapi hati masih gelisah? Berapa banyak yang bisa menyebutkan 99 nama Allah, tapi perilaku tidak mencerminkan penghambaan? Ini adalah paradoks generasi modern: Islam sebagai identitas, bukan sebagai way of life . Iman yang hidup ( living faith ) bukan tentang hafalan atau warisan keluarga. Iman yang hidup adalah keyakinan yang merasuk ke dalam jiwa, menggerakkan perilaku, dan menjadi remote control kehidupan sehari-hari. الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ "Ihsan ada...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...