Postingan

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM Dari Digitalisasi hingga Menolak IMF: Strategi Kemandirian Ekonomi Rakyat Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah Rabu, 13 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H  |  ⏱ Estimasi baca: 8–10 menit 📌 Ringkasan Eksekutif APBN 2026 menempatkan UMKM sebagai fondasi ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Dengan total alokasi Rp181,8 triliun untuk pilar Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM — ditambah target penyaluran KUR Rp320 triliun — pemerintah membangun ekosistem yang menopang 65 juta lebih pelaku usaha kecil. Bersamaan dengan itu, Indonesia mengambil keputusan berani: menolak tawaran pinjaman IMF senilai US$25–30 miliar , memilih kemandirian fiskal berbasis sumber daya domestik. Ini bukan kebijakan tambal sulam — ini adalah arsitektur ekonomi kerakyatan yang dirancang sistematis. UMKM Bukan Pelengkap — Melainkan Fondasi Ada angka yang perlu diingat sebelu...

Kanada Wajib Mendekati Indonesia

Kanada Wajib Mendekati Indonesia Ketika Ottawa Menyadari: Jakarta Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah Rabu, 13 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H  |  ⏱ Estimasi baca: 7–9 menit 📌 Ringkasan Eksekutif Parlemen Kanada mengesahkan Bill C-18 — implementasi legislatif Canada-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) — menjadikannya perjanjian perdagangan bilateral pertama Kanada dengan negara ASEAN. Dalam debat di Senat, Senator Yuen Pau Woo menyebut Indonesia secara eksplisit sebagai prioritas strategis Kanada di dunia multipolar, bahkan menyebutkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai faktor penguat peran global Indonesia. Momentum ini terjadi di tengah tekanan geopolitik Kanada untuk mendiversifikasi diri dari ketergantungan pada Amerika Serikat. Ottawa Bergerak — Bukan Karena Cinta, Karena Kepepet Ada momen dalam geopolitik ketika sebuah neg...

Smartphone dan Kematian Rasa Ihsan

Gambar
Smartphone dan Kematian Rasa Ihsan Ketika Kita Merasa Sendiri, Padahal Allah Tak Pernah Pergi Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah ⏱ Estimasi baca: 8–10 menit   Ada yang tak pernah absen di barisan shalat, namun matanya tak kuasa berpaling dari cahaya layar. Ada yang lisannya mengalun lembut di majelis ilmu, tapi jemarinya menari kasar di balik tirai digital. Dan ada yang meneteskan air mata dalam munajat, lalu kembali larut dalam gulita notifikasi saat malam menyelimuti kamar. Fenomena ini bukan tentang orang lain. Ini mungkin tentang kita. Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu agama. Bukan pula sedikitnya majelis dan kajian. Krisis terbesar kita adalah hilangnya rasa bahwa Allah sedang melihat kita — terutama ketika tangan menggenggam smartphone dan tidak ada seorang pun di sekitar yang tahu. Nabi ﷺ pernah ditanya: Apakah ihsan itu? Beliau menjawab: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِن...

Ulama yang Memilih Pelarian daripada Kehilangan Integritas

Gambar
Ulama yang Memilih Pelarian daripada Kehilangan Integritas Sufyan Ats-Tsauri dan Harga Menjaga Independensi Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org Ketika Suara Ulama Mulai Melunak Ada masa ketika suara ulama begitu merdeka. Mereka mampu berkata benar tanpa takut kehilangan kursi, bantuan, atau kedekatan dengan penguasa. Mereka tegak bukan karena tidak tahu risiko, tetapi karena tahu ada sesuatu yang lebih besar dari rasa aman — yaitu integritas di hadapan Allah. Hari ini, pemandangan itu terasa semakin langka. Kedekatan dengan kekuasaan sering membuat suara menjadi lunak, posisi menjadi pertimbangan, dan keberanian berkata benar perlahan tergerus oleh kepentingan. Di tengah kegelisahan semacam itu, nama Sufyan Ats-Tsauri hadir bukan sebagai kisah masa lalu yang usang, tetapi sebagai cermin yang mengguncang: seberapa mahal sesungguhnya harga menjaga independensi seorang alim? Siapa Sufyan Ats-Tsauri? Beliau adalah Abu 'Abdillah Sufyān bin Sa'īd bin Masrūq at...

Ledakan Beruntun Mengguncang Malam di Pergudangan Miami: "Saya Kira Perang"

LAPORAN DARI LOKASI Ledakan Beruntun Mengguncang Malam di Pergudangan Miami: "Saya Kira Perang" Jakarta Barat — Dentuman keras memecah langit malam Kalideres, Senin (11/5). Asap hitam pekat membumbung tinggi dari kawasan Pergudangan Miami di Jalan Rawa Melati A, Kelurahan Tegal Alur. Warga berlarian keluar rumah, sebagian berteriak histeris, ketika ledakan susulan terus terdengar dari balik gudang yang mulai dilalap api. "Saya kira perang, bunyinya 'duar... duar' terus," ujar Andi (39), warga RT 03 yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari titik api, dengan wajah masih menyisakan ketakutan saat ditemui di lokasi pengungsian sementara. Pemandangan mengerikan itu adalah awal dari kebakaran besar yang melanda kompleks Pergudangan Miami, Senin malam hingga Selasa dini hari. Berdasarkan data Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat, api pertama kali terlihat sekitar pukul 19.40 WIB di salah satu ban...

Sujud yang Ditolak Bumi

Sujud yang Ditolak Bumi Mengapa Salat Belum Mengubah Akhlak? Refleksi QS. Al-‘Ankabut: 45 & Jalan Pulang Hati yang Lelah Oleh : Tsaqif Rasyid Dai  Ada orang yang sujudnya panjang, tapi hatinya tetap gelisah. Bibirnya lancar melafalkan dzikir, namun pandangannya masih lapar pada yang diharamkan. Dahinya menghitam oleh gesekan sajadah, tetapi amarah dan syahwat masih duduk tegak di singgasana jiwa. Lalu, bagaimana jika selama ini bukan langit yang menjauh, melainkan hati kita yang tertutup? Bagaimana jika bumi menerima dahi kita, tapi menolak sujud kita? Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Tapi kita sering bertanya dalam diam: mengapa banyak yang rajin shalat, namun akhlaknya tak kunjung berubah? Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa shalat yang benar akan menjadi penghalang dari maksiat, sebab di dalamnya tertanam pengagungan kepada Allah dan rasa muraqabah —kesadaran bahwa kita senantiasa diawasi-Nya. ...

Dari Sabar Menuju Ridha: Meniti Hati di Hadapan Takdir Allah

Gambar
Dari Sabar Menuju Ridha: Meniti Hati di Hadapan Takdir Allah Mengapa takdir yang pahit kadang menjadi jalan paling lembut Allah membentuk hati manusia Oleh: Nuraini Persadani  | Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah   Ada luka yang tidak mudah diucapkan. Ada doa yang terasa lama dijawab. Ada kehilangan yang membuat hati bertanya pelan-pelan, di sudut malam yang sunyi: "Mengapa harus aku? Mengapa harus sekarang?" Pada titik itulah, hampir setiap manusia akhirnya bertemu dengan satu kata: sabar . Kata yang mudah diucapkan, namun berat untuk dihayati. Kata yang sering diberikan sebagai nasihat, padahal yang memberi pun tidak tahu betapa sulitnya menanggungnya. Namun dalam perjalanan ruhani Islam, sabar ternyata bukan puncak. Di atas sabar, ada maqam yang lebih sunyi, lebih lapang, sekaligus lebih agung: ridha kepada Allah . Dua kata yang sederhana, tetapi mengandung samudra kedalaman yang para ulama butuh kitab-kitab tebal untuk menguraikannya. Apakah sabar ber...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya