Postingan

Puasa Ramadhan dan Kognisi Manusia Antara Science, Spiritualitas, dan Hikmah Ilahi

Puasa Ramadhan dan Kognisi Manusia: Antara Science , Spiritualitas, dan Hikmah Ilahi Kajian Akademis-Populer | Psikologi, Neurosains, dan Fisiologi Puasa Ramadhan ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ูƒَู…َุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َู‰ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู† ู‚َุจْู„ِูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." — Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah: 183 Ayat ini adalah titik berangkat. Sebelum ilmu pengetahuan modern memiliki alat ukur Cohen's d atau neuroimaging , Al-Qur'an telah menyatakan tujuan tertinggi puasa: takwa . Dan kini, sains justru membantu kita memahami bagaimana proses fisiologis dan psikologis puasa itu menjadi jembatan menuju ketakwaan tersebut. Artikel ini adalah undangan untuk merenung bersama — sebagai seorang Muslim yang beriman sekaligus sebagai makhluk berpikir yang dianugerahi akal. Karena dalam Islam, akal da...

Madrasah Takwa Dari Lapar ke Empati Sosial

Puasa sebagai Madrasah Takwa: Dari Lapar ke Empati Sosial Ramadan bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ilahiyyah — ู…َุฏْุฑَุณَุฉٌ ุฅِู„َู‡ِูŠَّุฉٌ — sekolah ilahi yang mendidik manusia secara total dan menyeluruh: tubuh dilatih berdisiplin, jiwa disucikan dari noda, dan hati dilembutkan agar mampu merasakan penderitaan sesama dengan sepenuh empati. Di tengah tekanan ekonomi global dan meningkatnya kesenjangan sosial masyarakat, pesan Ramadan semakin relevan dan nyata: lapar bukan tujuan akhir, melainkan sarana pendidikan empati yang paling profound — paling mendalam yang pernah dirancang oleh Sang Pencipta untuk makhluk-Nya. Tulisan ini mengajak kita merenung lebih dalam: apa sesungguhnya yang sedang diajarkan Ramadan kepada kita, dan sudahkah kita menjadi murid yang belajar sungguh-sungguh di madrasah agung ini? Tujuan Puasa dalam Al-Qur'an: Takwa sebagai Destination Allah Ta'ala berfirman dengan tegas dan jelas: ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ...

Islam dan Kewarganegaraan: Taat Hukum, Etika Publik, Anti Kekerasan

Islam dan Kewarganegaraan: Taat Hukum, Etika Publik, Anti Kekerasan Oleh: Ir. H. Djunaidi Permata Pendahuluan: Ketika Kesalehan Bertabrakan dengan Realitas Sosial Salah satu kegagalan terbesar dalam discourse keislaman kontemporer adalah anggapan bahwa ketaatan kepada negara selalu berseberangan dengan ketaatan kepada agama. Di titik ini, banyak Muslim — terutama para aktivis — terjebak pada dilema palsu: memilih setia pada iman atau setia pada hukum. Padahal, sejarah pemikiran Islam justru memperlihatkan bahwa persoalan kewarganegaraan, hukum publik, dan etika sosial telah lama dibahas secara matang oleh para ulama mu'tabar, jauh sebelum lahirnya negara-bangsa modern. Masalah kian akut ketika sebagian umat memperlakukan Islam sebagai identitas oposisi permanen, bukan sebagai sistem nilai yang menata kehidupan bersama. Hukum positif dilabeli taghut , etika publik dicurigai sebagai sekularisme terselubung, dan penolakan terhadap kekerasan dianggap sebagai pelemahan jihad...

Jangan Cepat Membenci — Bisa Jadi Anda Belum Melihat Semuanya

Jangan Cepat Membenci — Bisa Jadi Anda Belum Melihat Semuanya Di era scrolling tanpa henti dan notifikasi yang bertubi-tubi, manusia modern telah terlatih untuk bereaksi dalam hitungan detik. Baru melihat satu foto, kita sudah menilai. Baru membaca satu kalimat, kita sudah memvonis. Baru mendengar sepotong cerita, kebencian sudah tumbuh subur di dada. Padahal, kita belum melihat semuanya. Dan mungkin — kita tidak akan pernah melihat semuanya. Tulisan ini mengajak kita merenungkan salah satu kesalahan paling umum namun paling berbahaya dalam kehidupan manusia: menilai sebelum memahami . Kita akan menelusuri dimensinya dari sisi psikologi modern, lalu menyelaminya lebih dalam melalui cahaya Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ๏ทบ — karena Islam, jauh sebelum ilmu psikologi lahir, telah meletakkan fondasi terbaik untuk merawat hati dari penyakit ini. Kesalahan Paling Umum: Menilai Sebelum Memahami Dari sisi cognitive psychology , fenomena penilaian tergesa-gesa dikenal seba...

GENERASI RABBANI (Seri 6)

VI. Karakteristik Eksternal Generasi Rabbani Setelah membahas fondasi spiritual, kecerdasan intelektual, dan kekuatan fisik sebagai dimensi internal Generasi Rabbani, kini kita masuk pada karakteristik eksternal yang menjadi manifestasi nyata dari kualitas internal tersebut. Jika dimensi internal adalah akar yang tersembunyi di dalam tanah, maka karakteristik eksternal adalah buah yang terlihat dan dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Karakteristik eksternal ini penting karena menjadi bukti otentik dari klaim keimanan seseorang. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan: "Al-iman laisa bil tamanni wa la bil tazayyun, walakin ma waqara fil qalb wa shaddaqahu al-amal" ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู„ูŠุณ ุจุงู„ุชู…ู†ูŠ ูˆู„ุง ุจุงู„ุชุฒูŠู†، ูˆู„ูƒู† ู…ุง ูˆู‚ุฑ ููŠ ุงู„ู‚ู„ุจ ูˆุตุฏู‚ู‡ ุงู„ุนู…ู„ - "Iman bukanlah dengan angan-angan atau hiasan semata, tetapi apa yang tertanam dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan." A. Istiqamah dalam Ibadah 1. Konsistensi vs Intensitas: Rahasia Kekuatan Ibadah ya...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya