Postingan

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa

Gambar
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا لّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 6 Juni 2026 - 20 Dzulhijjah 1447 H Prolog: Ketika Tombak Sudah Terlanjur Meluncur Pagi itu, di tanah Juhainah, pertempuran berlangsung singkat. Pasukan kaum muslimin menyerang di waktu fajar dan berhasil memukul mundur musuh. Usamah bin Zaid — sahabat mulia, putra dari Zaid bin Haritsah yang dijuluki hibbu Rasulillah , kekasih Rasulullah ﷺ — mengejar seorang prajurit musuh bersama seorang sahabat Anshar. Ketika sudah terkepung, ketika tidak ada jalan lagi, laki-laki itu mengucapkan: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Sahabat Anshar itu menghentikan langkahnya. Namun tombak Usamah terlanjur meluncur. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bertanya dengan nada yang sangat berat: أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ أَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ؟ Aqataltahu ba'da an qāla lā ilāha illallāh? "Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan...

Adab kepada Allah: Fondasi yang Hilang dari Hati Kita

Gambar
Adab kepada Allah: Fondasi yang Hilang dari Hati Kita Memahami Makna, Pilar, dan Cara Membangun Adab Hati kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, Al-Muhasibi, dan Ibnu Atha'illah Oleh : Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 6 Juni 2026 - 20 Dzulhijjah 1447 H Ada orang yang salatnya tidak pernah bolong. Puasanya sempurna. Sedekahnya rutin. Tapi ketika musibah datang — usahanya bangkrut, anaknya sakit, rencananya gagal — yang pertama keluar dari bibirnya adalah: "Kenapa aku? Padahal aku sudah banyak beribadah." Ada pula orang yang hafalan Qur'annya banyak, ilmunya dalam, ceramahnya menyentuh hati banyak orang. Tapi ketika sendirian, tanpa kamera, tanpa jamaah — hatinya hampa. Dzikirnya terasa basa-basi. Ibadahnya terasa seperti rutinitas yang berat. Kita tidak perlu menunjuk siapapun. Kita cukup bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku termasuk salah satunya? Para ulama — dari Al-Ghazali hingga Ibnu Atha'illah, dari Al-Muhasibi hin...

Saat Cahaya Menipu Mata Hati

Gambar
Saat Cahaya Menipu Mata Hati Ketika yang Terlihat Terang Justru Menjauhkan Kita dari Cahaya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 5 Juni 2026 — 19 Dzulhijjah 1447 H Bismillahirrahmanirrahim. Tidak semua manusia tersesat karena berjalan dalam gelap. Sebagian tersesat justru karena terlalu percaya pada sorot yang mereka lihat. Kegelapan membuat seseorang mencari jalan. Tetapi kilau yang menipu sering membuat seseorang berhenti mencari. Kilau kekayaan. Gemerlap popularitas. Pesona ilmu. Bahkan sinar ibadah. Yang berbahaya bukan ketika kita sadar sedang jauh dari Allah. Yang berbahaya adalah ketika kita merasa sedang dekat, sementara hati sedang perlahan menjauh. Di zaman ini manusia hidup dalam limpahan terang: terang layar gawai, terang pengakuan, terang keberhasilan orang lain yang setiap hari memenuhi linimasa. Ironisnya, semakin benderang dunia terlihat, semakin banyak hati yang kehilangan arah. Allah Ta'ala berfirman: ﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...