Postingan

Konsisten dalam Perkara Kecil Membentuk Karakter Taat dalam Perkara Besar

Konsisten dalam Perkara Kecil Membentuk Karakter Taat dalam Perkara Besar Oleh Abdullah Madura Ada satu adab pagi Idul Fitri yang sangat mudah dilupakan di tengah hiruk-pikuk persiapan hari raya. Bukan tentang baju baru. Bukan tentang jalan mana yang harus ditempuh menuju lapangan. Bukan tentang siapa yang akan kita kunjungi lebih dulu setelah shalat. Ini tentang beberapa butir kurma. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pelayan Rasulullah yang menemani beliau selama sepuluh tahun dan hafal luar-dalam kehidupan harian beliau — meriwayatkan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar pada pagi hari Idul Fitri hingga beliau memakan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil." (HR. Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ) Hadits ini pendek. Hanya satu kalimat. Tapi ia menyi...

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-19: Ali Larijani dan Panglima Basij Tewas, Bom Bunker 5.000 Pon Hantam Hormuz, Pejabat Intelijen AS Mundur

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-19: Ali Larijani dan Panglima Basij Tewas, Bom Bunker 5.000 Pon Hantam Hormuz, Pejabat Intelijen AS Mundur Reportase | Rabu, 18 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, NBC News, ABC News, Reuters, NPR, Middle East Eye, Newsweek, CBS News, Wikipedia Hari ke-19 perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran menorehkan dua momen yang akan dicatat sejarah. Pertama: Israel berhasil membunuh Ali Larijani — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, salah satu pejabat paling berpengaruh yang tersisa sejak kematian Khamenei senior — bersama putranya Morteza dan sejumlah anggota tim pengawalnya, dalam serangan udara semalam di Teheran. Bersamaan, Israel juga membunuh Gholamreza Soleimani , komandan Basij — pasukan paramiliter IRGC yang menjadi tulang punggung kontrol domestik Iran. Kedua: Director of the National Counterterrorism Center AS, Joe Kent , menjadi pejabat senior pertama pemerintahan Trump yang mengundurkan diri karena menolak pera...

Zakat Fitrah: Mengembalikan Makna Idul Fitri sebagai Hari Berbagi, Bukan Sekadar Perayaan

Zakat Fitrah: Mengembalikan Makna Idul Fitri sebagai Hari Berbagi, Bukan Sekadar Perayaan Oleh Abdullah Madura Ada yang terasa berbeda ketika pagi Idul Fitri tiba. Bukan hanya karena beduk yang berdentum lebih keras, bukan hanya karena baju baru yang terlipat rapi sejak semalam, bukan juga karena aroma opor ayam yang mengepul dari dapur. Ada sesuatu yang lebih dalam dari semua itu — sesuatu yang diajarkan oleh syariat dengan cara yang sangat lembut namun sangat tegas: bahwa hari raya ini bukan milik mereka yang berkecukupan saja. Hari raya ini adalah milik semua. Dan untuk memastikan itu, Allah mewajibkan zakat fitrah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda — dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang meriwayatkannya: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai peny...

Idul Fitri Bukan Kemenangan, Tapi Ujian Baru

Idul Fitri Bukan Kemenangan, Tapi Ujian Baru Setiap tahun, kalimat itu bergema di mana-mana: "Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal 'aidin wal faizin." Selamat untuk para pemenang. Selamat untuk mereka yang kembali ke fitrah. Di jalan-jalan, di rumah-rumah, di layar-layar telepon genggam — ucapan kemenangan itu terbang ke mana-mana seperti serbuk emas. Tapi diam-diam, ada pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada diri sendiri sebelum ucapan itu selesai diketik: Menang dari apa? Dan apakah kemenangan itu akan bertahan? Bukan pertanyaan untuk merusak sukacita. Bukan juga untuk memadamkan cahaya hari raya. Justru sebaliknya — ini adalah pertanyaan yang lahir dari kasih sayang yang mendalam terhadap diri sendiri dan terhadap makna Ramadhan yang sesungguhnya. Sebab ada kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri: begitu beduk Lebaran berdentum, begitu ketupat tersaji di meja, begitu shalat tarawih berganti dengan silaturahim dan meja makan yang panjang — banyak dar...

Ketika Langit Berbicara dalam Dua Bahasa: Menelaah Perbedaan Penentuan Hari Raya secara Adil dan Ilmiah

Ketika Langit Berbicara dalam Dua Bahasa: Menelaah Perbedaan Penentuan Hari Raya secara Adil dan Ilmiah Setiap menjelang Ramadhan atau Syawal, langit Indonesia seolah menyimpan dua jawaban sekaligus. Satu kelompok sudah sah berpuasa, yang lain masih menunggu. Satu keluarga besar merayakan lebaran, sanak saudaranya masih melanjutkan ibadah puasa. Fenomena ini berulang hampir setiap tahun, dan setiap tahun pula ia mengundang respons yang sama: cercaan, pembelaan, fatwa, dan kontroversi. Pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jernih adalah: apakah perbedaan ini lahir dari kekeliruan ilmiah, kelemahan moral, atau justru dari kompleksitas epistemologis yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan seruan "bersatu"? Dan apakah negara — sebagai pihak yang mengklaim peran pemersatu — benar-benar memiliki legitimasi syar'i yang kokoh untuk memaksa seluruh umat tunduk pada satu keputusan? Artikel ini tidak memihak satu metode, tidak pula memihak satu organisasi. Ia me...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya