Ikhlas yang Sulit Diukur
Ikhlas yang Sulit Diukur Mengapa Kita Tidak Pernah Yakin dengan Niat Kita Oleh Nuraini Persadani Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah mengusik kita di saat-saat paling sunyi — setelah shalat tahajud, setelah memberi sedekah, setelah menyampaikan ceramah yang disambut hangat: Apakah ini benar-benar ikhlas? Atau ada sesuatu yang lain di sana — serpihan halus dari keinginan untuk dipuji, untuk dikenang, untuk merasa lebih baik dari orang lain? Paradoksnya semakin kita mencoba "memastikan" keikhlasan kita, semakin kita justru kehilangan jejaknya. Ikhlas ( الإخلاص ) terasa seperti bayangan — semakin dikejar, semakin kabur. Dan di situlah terletak keganjilan sekaligus keindahan tema ini: ia menantang kita untuk jujur kepada diri sendiri di hadapan Dzat yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Artikel ini tidak bertujuan membuat kita semakin cemas. Sebaliknya, ia mengajak kita memahami bahwa ikhlas bukanlah perasaan yang bisa dipastikan keberadaannya — melain...