Postingan

Sorak Gol, Sunyi di Saf Subuh

Gambar
Sorak Gol, Sunyi di Saf Subuh Bukan Tentang Sepak Bola, tetapi Tentang Siapa yang Menjadi Pusat Cinta Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Di berbagai belahan dunia, malam berubah menjadi pesta. Mata enggan terpejam karena satu pertandingan yang telah dinanti empat tahun lamanya. Sorak sorai memenuhi ruang keluarga, grup WhatsApp ramai oleh prediksi skor, dan lini masa media sosial dipenuhi euforia gol demi gol. Namun di saat yang sama, ada saf Subuh yang perlahan kehilangan jamaahnya, satu demi satu, tanpa ada yang benar-benar menyadarinya sebagai kehilangan. Kita hafal jadwal kick-off, tetapi lupa jadwal perjumpaan dengan Rabb kita. Maka pantas kita bertanya pada diri sendiri: sebenarnya yang sedang kalah itu siapa? Tim favorit kita, atau hati kita sendiri? Barangkali inilah persoalan sesungguhnya yang dihadapi manusia modern. Bukan kekurangan waktu, sebab dalam sehari kita masih sempat menonton, membalas pesan, dan menikmati hiburan berjam-jam lamanya. Yang sebenarnya terjadi adalah k...

Saat Hati Tidak Lagi Mudah Tersentuh

Gambar
Saat Hati Tidak Lagi Mudah Tersentuh Ketika tawa semakin keras, tetapi hati semakin sunyi Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu keluhan yang belakangan sering terdengar, meski jarang diucapkan secara terbuka: hati terasa keras, sulit menangis, berat diajak berdzikir, namun begitu ringan tertawa. Ayat dibaca, namun tidak lagi bergetar. Nasihat didengar, namun tidak lagi membekas. Padahal dahulu, sedikit teguran saja sudah cukup membuat air mata jatuh. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang gejala ini jauh sebelum kita mengenalnya. Dari Abu Hurairah, beliau bersabda: لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ Lā tuktsirūḍ-ḍaḥika, fa inna katsrataḍ-ḍaḥiki tumītul-qalb. "Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati." (HR. Ibnu Majah, no. 4193; dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani) Sejak awal perlu dipahami: yang mematikan hati bukanlah tawa itu sendiri. Yang mematikan hati adalah ghaflah, kelalaian kepada Allah....

Allah Sering Menguji Manusia Melalui Ikatan yang Paling Dicintainya

Gambar
Allah Sering Menguji Manusia Melalui Ikatan yang Paling Dicintainya Ketika Ikatan Terdekat Menjadi Ujian Keimanan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ayat Payung يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan, berlapang dada, dan mengampuni, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At-Taghabun: 14) Ayat ini bukan sedang mengajarkan kecurigaan terhadap keluarga. Lafaz "min" (مِنْ) pada ayat menunjukkan bahwa tidak semua pasangan dan anak menjadi ujian semacam itu. Yang Allah ingatkan adalah agar seorang mukmin tidak lalai ketika kecintaan kepada keluarga berpotensi menghalanginya dari ketaatan kepada-Nya—dan kelanjutan ayat menegaskan bahwa kewas...

Ketika China Melahirkan Jutaan Talenta AI, Apa Konsekuensinya bagi Indonesia?

Gambar
Ketika China Melahirkan Jutaan Talenta AI, Apa Konsekuensinya bagi Indonesia? Membaca Ulang Revolusi Pendidikan Tinggi China dari Sudut Kepentingan dan Masa Depan Bangsa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai China baru saja menutup lebih dari 12.200 program studi sarjana antara 2021 hingga 2025, dan menggantinya dengan 10.200 program studi baru yang berorientasi pada kecerdasan buatan, robotika, dan semikonduktor. Khusus pada 2024 saja, 1.428 program studi dihapus secara permanen. Perlu ditegaskan sejak awal, yang dihapus adalah program studi tertentu di sejumlah kampus, bukan seluruh disiplin ilmu itu lenyap dari peta akademik China. Data ini berasal dari Kementerian Pendidikan China dan telah dilaporkan konsisten oleh Xinhua, South China Morning Post, Caixin Global, dan China Daily. Namun pertanyaan yang lebih penting bagi kita bukan sekadar apa yang terjadi di China, melainkan: apa artinya bagi Indonesia? Mengapa Ini Bukan Sekadar Berita Luar Negeri Dengan arah kebijakan saat ini, China...

Dua Sayap Menuju Falāḥ

Gambar
Dua Sayap Menuju Falāḥ Ketika Takut dan Harap Menjadi Kompas Spiritual Menuju Falāḥ dan Al-Fawz Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada dua perasaan yang selalu hadir dalam hati setiap manusia, meski sering tidak disadari asalnya. Satu membuatnya berhati-hati. Satu lagi membuatnya tetap melangkah. Yang pertama menahan agar tidak jatuh terlalu jauh. Yang kedua mendorong agar tidak berhenti terlalu cepat. Islam menyebut keduanya khauf dan raja'—takut dan harap. Namun keduanya bukan tujuan pada dirinya sendiri. Keduanya adalah instrumen yang mengarahkan hati menuju falāḥ, yaitu keberhasilan hidup yang utuh menurut Al-Qur'an: memperoleh seluruh kebaikan dan terlindungi dari segala keburukan, baik di dunia maupun di akhirat. Dari falāḥ inilah perjalanan bermuara pada al-fawz, kemenangan hakiki di sisi Allah. Khauf menjaga arah agar tidak menyimpang. Raja' memberi tenaga agar tidak berhenti di tengah jalan. Jika dibaca melalui perspektif maqāṣid syariah, khauf dapat dipahami seba...

Fragmen Kehidupan Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Dari Lorong Madrasah Menuju Penyucian Jiwa

Gambar
Fragmen Kehidupan Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Dari Lorong Madrasah Menuju Penyucian Jiwa Kisah seorang anak penjaga madrasah yang tumbuh menjadi dokter jiwa umat Oleh: Nuraini Persadani Seorang anak kecil tumbuh di lorong-lorong sebuah madrasah di Damaskus. Hari-harinya diwarnai suara guru yang mengajar, lembaran kitab yang dibuka satu demi satu, dan para penuntut ilmu yang datang silih berganti dari berbagai penjuru kota. Tidak ada yang menyangka, anak penjaga madrasah itu kelak menjadi salah satu ulama yang paling banyak menghidupkan hati kaum muslimin, bahkan hingga berabad-abad sesudahnya. Namanya sesungguhnya bukan nama keluarga sebagaimana banyak dikira. "Qayyim" adalah sebutan bagi pengelola sebuah madrasah, dan ayah beliau adalah pengelola Madrasah al-Jauziyah. Dari sanalah, Muhammad bin Abi Bakar dikenal sebagai anak sang Qayyim, hingga masyhur namanya sebagai Ibnu Qayyim al-Jauziyah—lahir pada tahun 691 Hijriah, bernapas sejak kecil di tengah aroma kitab dan ...

Perpres 111/2025: Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Dicantumkan dalam Analisis Ancaman Nonmiliter Negara

Gambar
Perpres 111/2025: Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Dicantumkan dalam Analisis Ancaman Nonmiliter Negara Polemik unggahan Pride Month di sebuah kampus negeri membuat publik kembali membaca ulang satu lampiran peraturan yang telah berlaku sejak akhir tahun lalu Oleh: Nuraini Persadani Sebuah unggahan bertema Pride Month dari unit kegiatan mahasiswa di salah satu kampus negeri memicu perdebatan luas di media sosial. Di tengah polemik tersebut, perhatian publik kembali tertuju pada Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Beleid ini sebenarnya bukan produk baru. Presiden Prabowo Subianto telah menandatanganinya sejak 24 Oktober 2025. Yang membuatnya ramai diperbincangkan belakangan adalah isi lampirannya yang kembali disorot: penyebaran budaya LGBTQ tercantum sebagai salah satu contoh ancaman nonmiliter dalam dimensi sosial-budaya. Apa Sebenarnya Perpres Nomor 111 Tahun 2025? Perpres ini berjudul lengkap Kebijakan Umum Pertahanan...

Ketika Sebuah Berita Menjadi Cermin Diri

Gambar
Ketika Sebuah Berita Menjadi Cermin Diri Dari Polemik LGBT menuju Muhasabah tentang Syahwat, Zina, dan Jalan Taubat Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada kalanya sebuah berita tidak berhenti sebagai informasi. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan keadaan hati kita sendiri. Polemik mengenai LGBT yang kembali mencuat beberapa waktu terakhir adalah salah satunya. Sebuah video pesta di sebuah tempat hiburan malam di Karawang menyebar cepat di linimasa. Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah akun media sosial memanipulasi foto keluarga untuk mempromosikan gagasan tentang pengasuhan anak oleh pasangan sesama jenis. Dua peristiwa yang berbeda bentuk, namun oleh banyak pihak dibaca sebagai satu tanda yang sama: sesuatu yang dahulu disembunyikan, kini tampil terang-terangan. Majelis Ulama Indonesia meresponsnya dengan tegas. Berlandaskan Fatwa Nomor 57 Tahun 2014, MUI menegaskan bahwa perilaku lesbian, gay, dan sodomi adalah keharaman yang termasuk kategori jarimah , sebuah pelanggaran yan...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...