Postingan

Salat Cepat, Apakah Tetap Sah?

Gambar
Salat Cepat, Apakah Tetap Sah? Ketika Gerakan Ada, Tapi Hati dan Thuma'ninah Hilang Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Takbir. Rukuk. Sujud. Salam. Tiga menit. Selesai. Tapi setelah itu, marah tetap meledak. Mata tetap liar. Hati tetap gelisah. Yang berubah hanya waktu — bukan jiwa. Lalu muncul pertanyaan yang jarang berani kita tanyakan kepada diri sendiri: Apakah salat yang sudah selesai itu benar-benar kita lakukan? Bukan soal sah atau tidak dalam catatan fiqih. Tapi soal: apakah ada sesuatu yang berubah dalam diri kita setelah berdiri, membungkuk, dan bersujud di hadapan Allah? Sah Belum Tentu Sempurna Dalam mazhab Syafi'i, salat dinyatakan sah bila syarat dan rukunnya terpenuhi. Ada sembilan syarat sah yang harus dipenuhi sebelum dan selama salat: Islam, berakal, tamyiz, suci dari hadas kecil dan besar, suci badan dan pakaian dan tempat dari najis, menutup aurat, masuk waktu, menghadap kiblat, dan mengetahui kefardu...

Belajarlah Mencintai Tanpa Menghitung

Gambar
Belajarlah Mencintai Tanpa Menghitung Tadabbur QS Al-Insān Ayat 8–9 — oleh Tsaqif Rasyid Dai Ketika Cinta Berubah Menjadi Transaksi Pernahkah kita merasa lelah setelah berbuat baik? Bukan lelah karena banyak memberi. Tapi lelah karena merasa tidak dibalas. Tidak dihargai. Tidak diingat. Kita hidup di zaman ketika kebaikan sering diam-diam menagih. Ketika perhatian diberikan sambil menunggu balasan. Ketika sedekah butuh saksi. Ketika pertolongan berharap catatan di buku besar sosial — suatu hari nanti dikembalikan. Psikologi menyebut ini transactional relationship : hubungan berbasis untung-rugi, di mana setiap kebaikan adalah investasi yang menunggu imbal hasil. Dan ketika imbal hasil itu tidak datang, yang tersisa adalah kecewa. Kita tidak selalu kecewa karena kurang dicintai. Kita kecewa karena ekspektasi kita tidak dibayar. Lalu Al-Qur'an datang dengan dua ayat yang begitu sunyi, begitu dalam — seolah berbisik kepada jiwa yang lelah menghitung: وَيُطْعِمُون...

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM Dari Digitalisasi hingga Menolak IMF: Strategi Kemandirian Ekonomi Rakyat Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah Rabu, 13 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H  |  ⏱ Estimasi baca: 8–10 menit 📌 Ringkasan Eksekutif APBN 2026 menempatkan UMKM sebagai fondasi ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Dengan total alokasi Rp181,8 triliun untuk pilar Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM — ditambah target penyaluran KUR Rp320 triliun — pemerintah membangun ekosistem yang menopang 65 juta lebih pelaku usaha kecil. Bersamaan dengan itu, Indonesia mengambil keputusan berani: menolak tawaran pinjaman IMF senilai US$25–30 miliar , memilih kemandirian fiskal berbasis sumber daya domestik. Ini bukan kebijakan tambal sulam — ini adalah arsitektur ekonomi kerakyatan yang dirancang sistematis. UMKM Bukan Pelengkap — Melainkan Fondasi Ada angka yang perlu diingat sebelu...

Kanada Wajib Mendekati Indonesia

Kanada Wajib Mendekati Indonesia Ketika Ottawa Menyadari: Jakarta Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah Rabu, 13 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H  |  ⏱ Estimasi baca: 7–9 menit 📌 Ringkasan Eksekutif Parlemen Kanada mengesahkan Bill C-18 — implementasi legislatif Canada-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) — menjadikannya perjanjian perdagangan bilateral pertama Kanada dengan negara ASEAN. Dalam debat di Senat, Senator Yuen Pau Woo menyebut Indonesia secara eksplisit sebagai prioritas strategis Kanada di dunia multipolar, bahkan menyebutkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai faktor penguat peran global Indonesia. Momentum ini terjadi di tengah tekanan geopolitik Kanada untuk mendiversifikasi diri dari ketergantungan pada Amerika Serikat. Ottawa Bergerak — Bukan Karena Cinta, Karena Kepepet Ada momen dalam geopolitik ketika sebuah neg...

Smartphone dan Kematian Rasa Ihsan

Gambar
Smartphone dan Kematian Rasa Ihsan Ketika Kita Merasa Sendiri, Padahal Allah Tak Pernah Pergi Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah ⏱ Estimasi baca: 8–10 menit   Ada yang tak pernah absen di barisan shalat, namun matanya tak kuasa berpaling dari cahaya layar. Ada yang lisannya mengalun lembut di majelis ilmu, tapi jemarinya menari kasar di balik tirai digital. Dan ada yang meneteskan air mata dalam munajat, lalu kembali larut dalam gulita notifikasi saat malam menyelimuti kamar. Fenomena ini bukan tentang orang lain. Ini mungkin tentang kita. Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu agama. Bukan pula sedikitnya majelis dan kajian. Krisis terbesar kita adalah hilangnya rasa bahwa Allah sedang melihat kita — terutama ketika tangan menggenggam smartphone dan tidak ada seorang pun di sekitar yang tahu. Nabi ﷺ pernah ditanya: Apakah ihsan itu? Beliau menjawab: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِن...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya