Postingan

Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok"

Gambar
Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok" Membaca Ulang QS. Al-Hasyr: 18 di Tengah Hidup yang Penuh Rencana Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18) Kita hidup di zaman yang sangat gemar membuat perencanaan. Ada yang menyiapkan target bulanan, menyusun rencana lima tahun, bahkan menghitung tabungan pensiun sejak usia muda. Kita diajarkan untuk memikirkan masa depan dengan serius, terencana, dan terukur. Namun anehnya, semakin jauh kita merencanakan hidup, semakin jarang kita bertanya satu hal yang paling mendasar: Apa yang sebenarnya sedang saya persia...

Anatomi Jiwa Menurut Al-Qur'an

Gambar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Anatomi Jiwa Menurut Al-Qur'an Dari Nafs Ammārah hingga Nafs Muṭma'innah: Membaca Tazkiyatun Nafs dalam Perspektif Tafsir, Ulama Salaf, dan Psikologi Kontemporer Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah paradoks yang mengganggu manusia modern, meski jarang dibicarakan secara terbuka. Kita hidup di era dengan fasilitas yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Teknologi mempercepat segalanya. Informasi tersedia tanpa batas. Pilihan hidup membentang lebih lebar dari waktu ke waktu. Namun di tengah semua itu, laporan global tentang kecemasan, depresi, dan apa yang oleh psikolog Viktor Frankl disebut sebagai existential vacuum — kekosongan eksistensial akibat kehilangan makna hidup — justru terus meningkat. Kita lebih terhubung, tetapi merasa semakin kesepian. Lebih banyak pilihan, tetapi lebih sulit menentukan arah. Lebih mudah mengekspresikan diri, tetapi semak...

Saat Ego Bersembunyi di Balik Kesalehan

Gambar
Saat Ego Bersembunyi di Balik Kesalehan Tipuan Diri, Ghurūr, dan Kebanggaan Palsu dalam Perspektif Tazkiyatun Nafs dan Psikologi Modern Oleh: Tsaqif Rasyid Dai persadani.org | Media Analitik Islam Wasathiyah Kita semua pernah mengalami momen ketika sebuah kritik terasa tidak adil — padahal mungkin ia benar. Kita pernah merasa lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan sendiri. Kita pernah diam-diam berharap diakui, dihargai, dianggap penting — meski di permukaan kita berkata tidak mengharapkan apa-apa. Kita pernah merasa yakin bahwa kita lebih objektif, lebih tulus, lebih lurus daripada kebanyakan orang di sekitar kita. Jika ada satu atau dua dari kalimat itu yang terasa familiar, maka artikel ini memang sedang berbicara kepada kita. Tidak semua tipuan datang dari luar. Sebagian datang dari dalam. Dan yang paling berbahaya adalah tipuan yang membuat seseorang merasa baik-baik saja, merasa sudah cukup, merasa sudah sampai — sementara ia sedang menjauh dari...

Tidakkah Engkau Ingin Allah Mengampunimu?

Gambar
Tidakkah Engkau Ingin Allah Mengampunimu? Perjalanan Hati dari Dendam Menuju Al-'Afwu, Ash-Shafh, dan Al-Maghfirah Di suatu malam yang sunyi, seorang lelaki berbaring dengan mata terbuka. Bukan karena sakit. Bukan karena lapar. Tetapi karena wajah itu kembali hadir — wajah seseorang yang pernah menyakitinya bertahun-tahun silam. Kata-kata lama terputar ulang. Rasa sakit yang dikira telah pergi ternyata masih berdiam di sudut yang paling dalam dari dadanya. Inilah penjara yang paling sunyi: tubuh bebas, tetapi hati masih terikat kepada orang yang telah lama berlalu. Yang membuat seseorang tidak bisa tidur bukan selalu orang yang masih ada di hadapannya. Kadang yang membuatnya gelisah adalah seseorang yang telah pergi bertahun-tahun lalu, tetapi masih diberi tempat tinggal di dalam hatinya — tanpa izin, tanpa bayar sewa, dan tanpa pernah sadar bahwa ia ditinggali. Itulah yang disebut dendam. Dan artikel ini bukan hanya tentang memaafkan. Ia tentang pembebasan — dari pe...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...