Postingan

Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir QS. Asy-Syams 9–10

Gambar
Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir QS. Asy-Syams 9–10 Kajian Tafsir, Diksi Qur'ani, dan Perspektif Ulama tentang Penyucian Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai 2 Dzulhijjah 1447 H / 19 Mei 2026 Mengapa ada orang yang sangat cerdas, memiliki segalanya — karir gemilang, harta berlimpah, nama yang dihormati — namun hatinya tak pernah benar-benar tenang? Dan mengapa ada yang hidupnya sederhana, jauh dari gemerlapnya dunia, tetapi wajahnya memancarkan kedamaian yang sulit dijelaskan? Mengapa manusia bisa jatuh bukan karena kekurangan ilmu, bukan karena miskin pengalaman, bukan karena tak cukup usaha — tetapi karena ia kehilangan dirinya sendiri? Al-Qur'an menjawab semua itu dalam dua ayat yang pendek namun luar biasa padat: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Qad aflaḥa man zakkāhā. Wa qad khāba man dassāhā. "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9–10) Dua kalima...

Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu

Gambar
Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu Oleh: Abdullah Madura Seorang arab badui. Tidak ada yang mengenalnya. Kitab-kitab sejarah tidak satu pun yang menyebutkan namanya. Bahkan seluruh sahabat Nabi ﷺ tidak ada yang mengenal identitasnya. Orang Takwa yang Tersembunyi Ada tipe manusia yang ketika hadir tidak ada yang menyapa, ketika pergi tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Orang Jawa berkata: "Yen ono ora nambah jumlah, yen ora ono ora ngurangi jumlah." Ketika hilang tidak ada yang mencari. Bahkan ketika wafat pun tidak banyak yang mengetahui. Namun ia adalah orang shaleh yang tersembunyi. Datang tidak dikenal, pergi tidak dicari. Namun namanya harum di hadapan penduduk langit — atqiyaul akhfiya . Ia ibarat lentera yang menerangi gelapnya fitnah kehidupan dunia. Itulah gambaran arab badui dalam kisah ini. Ibnu Athaillah Al-Iskandari berkata: "Awal perjalanan menuju Allah adalah benarnya niat." Artinya, segal...

Popularitas yang Menakutkan Orang Saleh

Gambar
Popularitas yang Menakutkan Orang Saleh Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026 Di zaman ketika manusia lebih takut dilupakan daripada takut kehilangan dirinya sendiri, ada satu perlombaan yang terasa makin sunyi sekaligus melelahkan: perlombaan untuk terlihat. Semua serba dihitung — berapa followers , berapa likes , berapa banyak yang mengenal nama kita. Ada istilah yang kini menjadi kecemasan tersendiri: fear of irrelevance — ketakutan tidak relevan, ketakutan tidak diperhatikan, ketakutan senyap di tengah keramaian. Tetapi ada tiga tokoh dalam sejarah Islam yang justru takut pada hal yang sebaliknya. Mereka takut menjadi terkenal . Bukan karena rendah diri atau anti sosial — melainkan karena mereka memahami sesuatu yang sangat dalam: bahwa popularitas bisa menjadi racun yang masuk secara samar ke dalam hati, perlahan menggeser niat, nyaris tanpa terasa. Tiga tokoh itu adalah Umar bin Abdul Aziz ( عمر بن عبد العزيز ), Imam an-Nawawi ( يحي...

Dosa Jari di Smartphone

Gambar
Dosa Jari di Smartphone Ghibah, Scroll, dan Jejak Digital yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Sabtu, 30 Dzulqa'dah 1447 H / 17 Mei 2026 Sebagian dosa hari ini tidak lagi diucapkan. Ia diketik. Tidak lagi dibisikkan. Ia di- forward . Tidak lagi terjadi di majelis. Ia hidup di grup WhatsApp, kolom komentar, reels , dan story . Allah ﷻ berfirman: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun 'atīd "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qāf: 18) Jika ucapan lisan dicatat, bagaimana dengan tulisan, komentar, emoji sinis, dan tombol share ? Para fuqaha telah menegaskan satu kaidah: الْكِتَابُ كَالْخِطَابِ Al-kitābu kal-khiṭāb "Tulisan kedudukannya seperti ucapan langsung." (Kaidah fikih, digunakan para fuqaha dalam bab muamalah, iqrar, dan akad) Kaidah ini bukan berarti setiap tulisan ot...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya