Postingan

Puasa Syawal: Membentuk Ketahanan Spiritual dan Mentalitas Ibadah Sepanjang Hayat

Puasa Syawal: Membentuk Ketahanan Spiritual dan Mentalitas Ibadah Sepanjang Hayat Ramadhan Membentuk Fondasi, Syawal Menjaga Konsistensi Oleh Abdullah Madura Ramadhan sudah berlalu. Pintu-pintu surga yang terbuka lebar itu sudah kembali ditutup. Setan-setan yang dibelenggu sudah dilepaskan kembali. Suasana masjid yang ramai setiap malam sudah berganti dengan keheningan biasa. Dan kita — dengan segala yang sudah kita bangun selama tiga puluh hari itu — berdiri di ambang Syawal dengan satu pertanyaan besar yang tidak selalu kita sadari sedang kita hadapi: Apakah yang dibangun di Ramadhan akan bertahan? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah menjawab pertanyaan itu — bukan dengan ceramah panjang tentang pentingnya konsistensi, tapi dengan sebuah sunnah yang konkret, praktis, dan mengandung janji yang sangat besar: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ "Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya deng...

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-23–24: Batas Waktu Ultimatum Trump Tiba, Iran Ancam Tutup Hormuz Permanen, IEA Sebut Krisis Energi Terburuk sejak 1970-an

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-23–24: Batas Waktu Ultimatum Trump Tiba, Iran Ancam Tutup Hormuz Permanen, IEA Sebut Krisis Energi Terburuk sejak 1970-an Reportase | Senin, 23 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, NPR, CBS News, ABC News, Times of Israel, Bloomberg, Reuters, IEA, Wikipedia Senin, 23 Maret 2026 — seluruh dunia menahan napas. Pada pukul 23:44 GMT malam ini, batas waktu ultimatum Presiden Trump kepada Iran resmi berakhir: buka penuh Selat Hormuz tanpa ancaman — atau pembangkit-pembangkit listrik Iran dihancurkan, "dimulai dari yang terbesar." Iran telah menjawab: jika Trump melaksanakan ancamannya, Iran akan menutup Selat Hormuz secara permanen hingga setiap pembangkit listrik yang dihancurkan selesai dibangun kembali, dan akan menyerang seluruh infrastruktur energi dan komunikasi kawasan yang berkaitan dengan AS dan Israel. Harga minyak Brent melonjak ke 114 dolar per barel . Pasar saham Asia rontok — Nikkei turun 3,5 persen, Kospi Korea Selatan anj...

Hisab Akurat — Tapi di Mana "Titik Nol" Bulan Baru Hijriyah?

Hisab Akurat — Tapi di Mana "Titik Nol" Bulan Baru Hijriyah? Oleh: Nurani Persadani Sebuah pertanyaan sederhana namun menohok pernah dilontarkan dalam sebuah diskusi kalender Islam: "Jika hisab itu benar-benar akurat — bahkan tidak meleset semenit pun — maka negeri atau kota manakah di belahan bumi ini yang pertama kali mengalami detik pertama bulan baru Hijriyah? Sebagaimana tanggal baru Masehi selalu dimulai dari satu titik tetap di permukaan bumi?" Pertanyaan ini tampak teknis. Namun bila direnungkan lebih dalam, ia menyentuh inti perdebatan paling mendasar dalam wacana kalender Islam kontemporer: apakah sistem hisab dapat — dan seharusnya — melahirkan kalender Hijriyah yang seragam global, seperti halnya kalender Masehi? Artikel ini berusaha menjawab dengan jujur dan mendalam, dari sudut pandang astronomi, fikih, dan sejarah peradaban Islam. Dua Sistem, Dua Logika yang Berbeda Kalender Masehi: Konvensi Manusia atas Fenomena Alam Kalender Masehi...

Membangun Memori Spiritual Generasi Muda dan Menanamkan Rasa Bangga terhadap Agamanya

Membangun Memori Spiritual Generasi Muda dan Menanamkan Rasa Bangga terhadap Agamanya Oleh Abdullah Madura Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Ia tidak bisa diajarkan hanya melalui buku teks. Tidak cukup dengan ceramah di kelas, tidak memadai dengan hafalan ayat yang ditulis berulang-ulang di papan tulis. Ada dimensi dari keimanan yang hanya bisa tumbuh dari satu sumber yang tidak bisa digantikan: pengalaman langsung . Pengalaman berdiri di lapangan yang dipenuhi ribuan orang, semuanya satu arah, semuanya satu suara, semuanya mengangkat tangan dalam doa yang sama. Pengalaman mendengar gema takbir yang memenuhi udara dari segala penjuru. Pengalaman merasakan — bukan sekadar mengetahui — bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Inilah yang dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan sangat mendalam. Dan itulah mengapa beliau memerintahkan sesuatu yang mungkin mengejutkan kita jika kita belum...

Menjadi Wasathiyah: Jalan Tengah yang Membebaskan, Bukan Jalan Tengah yang Lemah

Menjadi Wasathiyah: Jalan Tengah yang Membebaskan, Bukan Jalan Tengah yang Lemah Ada sebuah kesakitan yang tidak banyak orang berani akui. Kesakitan itu bukan karena kita tidak beragama — justru karena kita terlalu keras beragama dengan cara yang salah. Kita bangun malam demi malam, air mata membasahi sajadah, tetapi hati tidak juga menjadi tenang. Kita hafal hukum-hukum halal dan haram sampai ke detail yang paling rinci, tetapi jiwa kita tetap kering seperti tanah yang retak di musim kemarau panjang. Kita mengulang istighfar ribuan kali, tetapi merasa dosa yang sama terus kembali dalam siklus yang melelahkan — bertobat, jatuh, bertobat lagi, jatuh lagi — hingga kita tidak yakin lagi apakah tobat kita pernah benar-benar diterima. Ini bukan kelemahan iman. Ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar: kita telah salah memahami di mana jalan itu sesungguhnya berada. Kita telah diajarkan untuk memilih antara dua tepi jalan yang berbahaya. Di tepi pertama: legalisme kering ya...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya