Doa yang Dulu Sering Dilupakan, Kini Mulai Dicari
Oleh: Nuraini Persadani Di usia yang mulai menyisakan jeda, kita perlahan menyadari sesuatu yang dulu luput: bahwa hidup tidak pernah benar-benar berada dalam genggaman. Dulu, langkah terasa ringan, rencana tampak rapi, dan doa sering tertinggal di ujung kesibukan — diucap sekadarnya, atau bahkan dilupakan sama sekali. Kita berjalan seolah cukup dengan diri sendiri, seolah dunia bisa ditaklukkan dengan usaha dan waktu yang panjang. Namun kini, di antara sunyi yang tak lagi bisa dihindari, ada ruang kosong yang tak mampu diisi oleh pencapaian. Malam menjadi lebih jujur, dan hati yang dulu keras mulai retak perlahan. Di situlah doa — yang dulu terasa jauh — kini dipanggil dengan lirih, dicari dengan gelisah, seakan ia adalah satu-satunya jalan pulang. Kita mulai berbisik, bukan karena fasih, tapi karena akhirnya mengerti: bahwa sejak awal, kita memang selalu membutuhkan-Nya. Apa yang sebenarnya berubah — hidup kita, ataukah cara kita memandang hidup? Dulu, di masa muda, ada ses...