Postingan

Ulama yang Memilih Pelarian daripada Kehilangan Integritas

Gambar
Ulama yang Memilih Pelarian daripada Kehilangan Integritas Sufyan Ats-Tsauri dan Harga Menjaga Independensi Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org Ketika Suara Ulama Mulai Melunak Ada masa ketika suara ulama begitu merdeka. Mereka mampu berkata benar tanpa takut kehilangan kursi, bantuan, atau kedekatan dengan penguasa. Mereka tegak bukan karena tidak tahu risiko, tetapi karena tahu ada sesuatu yang lebih besar dari rasa aman — yaitu integritas di hadapan Allah. Hari ini, pemandangan itu terasa semakin langka. Kedekatan dengan kekuasaan sering membuat suara menjadi lunak, posisi menjadi pertimbangan, dan keberanian berkata benar perlahan tergerus oleh kepentingan. Di tengah kegelisahan semacam itu, nama Sufyan Ats-Tsauri hadir bukan sebagai kisah masa lalu yang usang, tetapi sebagai cermin yang mengguncang: seberapa mahal sesungguhnya harga menjaga independensi seorang alim? Siapa Sufyan Ats-Tsauri? Beliau adalah Abu 'Abdillah Sufyān bin Sa'īd bin Masrūq at...

Ledakan Beruntun Mengguncang Malam di Pergudangan Miami: "Saya Kira Perang"

LAPORAN DARI LOKASI Ledakan Beruntun Mengguncang Malam di Pergudangan Miami: "Saya Kira Perang" Jakarta Barat — Dentuman keras memecah langit malam Kalideres, Senin (11/5). Asap hitam pekat membumbung tinggi dari kawasan Pergudangan Miami di Jalan Rawa Melati A, Kelurahan Tegal Alur. Warga berlarian keluar rumah, sebagian berteriak histeris, ketika ledakan susulan terus terdengar dari balik gudang yang mulai dilalap api. "Saya kira perang, bunyinya 'duar... duar' terus," ujar Andi (39), warga RT 03 yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari titik api, dengan wajah masih menyisakan ketakutan saat ditemui di lokasi pengungsian sementara. Pemandangan mengerikan itu adalah awal dari kebakaran besar yang melanda kompleks Pergudangan Miami, Senin malam hingga Selasa dini hari. Berdasarkan data Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat, api pertama kali terlihat sekitar pukul 19.40 WIB di salah satu ban...

Sujud yang Ditolak Bumi

Sujud yang Ditolak Bumi Mengapa Salat Belum Mengubah Akhlak? Refleksi QS. Al-‘Ankabut: 45 & Jalan Pulang Hati yang Lelah Oleh : Tsaqif Rasyid Dai  Ada orang yang sujudnya panjang, tapi hatinya tetap gelisah. Bibirnya lancar melafalkan dzikir, namun pandangannya masih lapar pada yang diharamkan. Dahinya menghitam oleh gesekan sajadah, tetapi amarah dan syahwat masih duduk tegak di singgasana jiwa. Lalu, bagaimana jika selama ini bukan langit yang menjauh, melainkan hati kita yang tertutup? Bagaimana jika bumi menerima dahi kita, tapi menolak sujud kita? Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Tapi kita sering bertanya dalam diam: mengapa banyak yang rajin shalat, namun akhlaknya tak kunjung berubah? Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa shalat yang benar akan menjadi penghalang dari maksiat, sebab di dalamnya tertanam pengagungan kepada Allah dan rasa muraqabah —kesadaran bahwa kita senantiasa diawasi-Nya. ...

Dari Sabar Menuju Ridha: Meniti Hati di Hadapan Takdir Allah

Gambar
Dari Sabar Menuju Ridha: Meniti Hati di Hadapan Takdir Allah Mengapa takdir yang pahit kadang menjadi jalan paling lembut Allah membentuk hati manusia Oleh: Nuraini Persadani  | Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah   Ada luka yang tidak mudah diucapkan. Ada doa yang terasa lama dijawab. Ada kehilangan yang membuat hati bertanya pelan-pelan, di sudut malam yang sunyi: "Mengapa harus aku? Mengapa harus sekarang?" Pada titik itulah, hampir setiap manusia akhirnya bertemu dengan satu kata: sabar . Kata yang mudah diucapkan, namun berat untuk dihayati. Kata yang sering diberikan sebagai nasihat, padahal yang memberi pun tidak tahu betapa sulitnya menanggungnya. Namun dalam perjalanan ruhani Islam, sabar ternyata bukan puncak. Di atas sabar, ada maqam yang lebih sunyi, lebih lapang, sekaligus lebih agung: ridha kepada Allah . Dua kata yang sederhana, tetapi mengandung samudra kedalaman yang para ulama butuh kitab-kitab tebal untuk menguraikannya. Apakah sabar ber...

Mengapa Kita Tak Lagi Menangis Saat Sujud?

Mengapa Kita Tak Lagi Menangis Saat Sujud? Kerasnya Hati di Era Distraksi Oleh: Nuraini Persadani Ada masa ketika satu doa membuat mata kita basah. Dulu, sujud terasa panjang. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Allah. Ada sesak yang pecah menjadi tangis — sunyi, tersembunyi, tapi nyata. Kita bangkit dari sujud dengan dada yang lebih lapang, seolah beban telah diletakkan di hadapan Sang Pemilik Segalanya. Tapi entah sejak kapan, semuanya berubah. Kita masih shalat. Masih rukuk. Masih sujud. Tapi tidak ada yang pecah di dada. Tidak ada yang runtuh. Bahkan kadang, kita selesai salam tanpa benar-benar merasa baru saja berdiri di hadapan Allah. Shalat selesai, dan kita langsung meraih ponsel — seolah ada sesuatu yang lebih penting dari percakapan dengan Rabb semesta alam. Lalu muncul pertanyaan yang kita simpan dalam-dalam: Apa yang sebenarnya terjadi pada hati kita? Bukan karena Allah jauh. Tapi karena hati kita terlalu penuh oleh dunia — sehingga tidak lagi pu...

Saat Orang Kuat Takluk di Atas Sajadah

Saat Orang Kuat Takluk di Atas Sajadah Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Dunia sering mendefinisikan kekuatan dengan suara yang keras, langkah yang tak tergoyahkan, dan mahkota yang tak pernah turun. Kita diajarkan untuk berdiri tegak, menang dalam setiap pertarungan, dan mengumpulkan tepuk tangan sebagai bukti kejayaan. Tapi diam-diam, ada jenis kekuatan lain yang tak pernah masuk headline , tak pernah viral di layar, dan tak pernah diukur oleh standar manusia. Kekuatan itu justru lahir saat lutut menyentuh tanah, dan kening menyentuh bumi. Di luar sana, kuat berarti mendominasi. Berarti tak pernah tunduk, tak pernah mengaku lelah, dan selalu memegang kendali. Tapi Islam mengajarkan paradigma yang membalik logika itu: kekuatan sejati bukan tentang berapa banyak orang yang kau taklukkan, melainkan seberapa banyak ego yang berhasil kau jinakkan. Nabi ﷺ bersabda, “Bukanlah orang kuat yang pandai bergulat. Orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim). D...

Orang yang Menjaga Shalat Tidak Selalu Kaya, Tapi Jarang Kehilangan Arah

Orang yang Menjaga Shalat Tidak Selalu Kaya, Tapi Jarang Kehilangan Arah Oleh: Nuraini Persadani  |  23 Dzulqa'dah 1447 H / 10 Mei 2026 Kajian Reflektif  |  persadani.org Ada orang yang hidupnya tidak mudah. Hutang belum lunas. Karier stagnan. Hubungan keluarga belum sempurna. Tetapi ada satu hal yang aneh: wajahnya tidak hancur. Ada sesuatu yang menopang dari dalam. Sebuah keteraturan kecil yang diam-diam menjadi tali hidupnya—panggilan langit yang ia penuhi lima kali sehari. Lalu ada juga yang sebaliknya. Hidupnya terlihat baik-baik saja dari luar. Karier bagus. Pergaulan luas. Tapi satu per satu ia kehilangan arah. Keputusan-keputusannya makin tidak masuk akal. Hubungannya dengan orang-orang terdekat memburuk perlahan. Sesuatu di dalam dirinya retak—dan ia tidak tahu dari mana memulai tambalannya. Perbedaan antara keduanya bukan selalu soal nasib, rezeki, atau kepintaran. Tapi ada yang berbeda dalam cara mereka menjaga hubungan dengan langit. Zaman y...

Hari Raya Ibrahim, Saat Ego Diam-Diam Menjadi Qarun

Hari Raya Ibrahim, Saat Ego Diam-Diam Menjadi Qarun Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Hari raya selalu membawa sesuatu yang lembut sekaligus rumit dalam jiwa manusia. Ada syukur yang mengalir, ada haru yang menyapa, dan ada keinginan tulus untuk berbagi. Namun, diam-diam, ada pula getaran halus yang sulit kita akui: kerinduan untuk dilihat, untuk diakui, untuk merasa “cukup” di mata sesama. Di antara gema takbir dan aroma dupa, dua bisikan sering kali bersaing: satu mengajak kita menyerahkan, satunya lagi meminta kita mempertontonkan. Tentu, tidak setiap foto adalah riya, sebagaimana tidak setiap diam adalah ikhlas. Amal yang tersembunyi bisa saja tercemar ego yang tak terdeteksi, sementara amal yang terlihat bisa lahir dari syukur dan syiar yang mulia. Syariat tidak melarang kita berbagi kebahagiaan. Hanya saja, hati manusia itu licin. Kadang, yang kita kira sebagai syiar, perlahan berubah menjadi panggung. Dan di sinilah ujian itu diam-diam bekerja. Ibrahim tidak pernah menghitung nilai...

Tauhid: Tempat Semua Perbaikan Dimulai

Tauhid: Tempat Semua Perbaikan Dimulai Oleh: Nuraini Persadani Ketika Akar Pohon Kehidupan Sedang Sakit Kita hidup di zaman yang tidak pernah kekurangan seminar perbaikan diri. Ada workshop healing untuk luka batin. Ada pelatihan produktivitas untuk mereka yang merasa hidupnya tidak ke mana-mana. Ada kelas mindfulness untuk yang gelisah. Ada coaching finansial untuk yang takut miskin. Ada ribuan konten motivasi yang tersebar setiap hari, menawarkan janji-janji kebangkitan. Namun anehnya — dan ini perlu kita renungkan dengan jujur — banyak orang yang sudah menghadiri puluhan seminar itu tetap saja merasa hampa. Banyak yang sudah healing berkali-kali, tapi lukanya tak kunjung sembuh. Banyak yang motivasinya membara di pagi hari, lalu padam sebelum matahari terbenam. Mengapa demikian? Karena yang selama ini diperbaiki hanyalah ranting dan daun. Sementara akar pohon kehidupannya sedang membusuk dalam kegelapan, tak ada yang menyentuhnya. Islam — agama yang membawa ri...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya