Oleh-olehe Ndi?
Oleh-olehe Ndi? Jos Gandos, Implementasinya Menyusul ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Belum juga sempat melepas sepatu, pertanyaan itu sudah menyambar. “Oleh-olehe ndi?” Pertanyaan khas orang rumah ketika seseorang baru pulang bepergian. Bisa dari luar kota, menghadiri undangan, atau sekadar mampir ke tempat wisata. Tidak selalu sungguh-sungguh meminta sesuatu. Kadang hanya menggoda. Tetapi kalau benar-benar membawa oleh-oleh, tentu lebih menyenangkan. Rupanya pertanyaan serupa juga berlaku bagi mereka yang baru pulang dari pelatihan, seminar, studi banding, atau kegiatan peningkatan kapasitas. “Piye pelatihane?” “Wah, apik tenan! Jos gandos!” “Materinya?” “Luar biasa. Narasumbernya hebat. Banyak ilmu baru. Sangat menginspirasi.” “Terus, oleh-olehe ndi?” “Kesel.” Hehehe. Jawaban pendek. Jujur. Sekaligus nyesek. Berangkat pagi, pulang sore. Duduk berjam-jam, mendengarkan materi, mencatat, berdiskusi, sesekali bertepuk tangan. Tidak lupa foto bersama. Pulang membawa sertifika...