Postingan

Ketika Ilmu Semakin Tinggi, Mengapa Bakti kepada Orang Tua Semakin Rendah?

Gambar
Ketika Ilmu Semakin Tinggi, Mengapa Bakti kepada Orang Tua Semakin Rendah? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 4 Juni 2026 - 18 Dzulhijjah 1447 H Ada pemandangan yang berulang di banyak keluarga Muslim zaman ini — dan siapa pun yang pernah tinggal di lingkungan pesantren atau keluarga terdidik pasti pernah menyaksikannya. Seorang anak muda yang telah menyelesaikan studi tinggi, fasih membaca kitab, hafal puluhan hadits, bahkan aktif berdakwah di media sosial — namun di rumahnya sendiri, ia jarang menyapa ibunya dengan lembut, enggan membantu pekerjaan rumah, atau lebih memilih layar ponsel daripada duduk menemani ayahnya yang sudah tua. Ini bukan fenomena langka. Ini adalah paradoks yang menyakitkan: ilmu yang seharusnya menjadi cahaya, justru tidak menerangi ruang yang paling dekat — ruang keluarga, ruang bakti, ruang di mana surga pertama kali dijanjikan. Tentu tidak semua orang berilmu mengalami keadaan ini. Banyak penuntut ilmu yang justru semakin tawadhu...

Jalan Menuju Ihsan: Seni Menyucikan Jiwa dan Menghadirkan Allah dalam Kehidupan

Gambar
Jalan Menuju Ihsan: Seni Menyucikan Jiwa dan Menghadirkan Allah dalam Kehidupan Mengapa hati tetap gelisah di tengah kehidupan yang semakin mudah, dan bagaimana ulama salaf menjelaskan jalan menuju ketenangan sejati. Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 4 Juni 2026 - 18 Dzulhijjah 1447   Kita hidup di zaman yang menjanjikan kebahagiaan melalui kemudahan. Makanan datang hanya dengan satu sentuhan jari. Pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Namun anehnya, semakin banyak manusia mengaku lelah. Tidak sedikit yang mengalami kecemasan tanpa sebab yang jelas. Sulit tidur. Sulit fokus. Sulit menikmati hidup meski secara lahir tidak ada yang kurang. Dan yang lebih membingungkan, sebagian merasakan kekosongan bahkan setelah mendapatkan apa yang dulu mereka impikan. Pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi: "Bagaimana cara sukses?" Melainkan: "Mengapa setelah sukses, hati masih terasa ada yang hilang?...

Qadha dan Qadar dalam Perspektif Ulama Salaf dan Psikologi Modern: Dari Takdir Menuju Ketenangan Jiwa

Gambar
Qadha dan Qadar dalam Perspektif Ulama Salaf dan Psikologi Modern: Dari Takdir Menuju Ketenangan Jiwa Bagaimana ulama salaf memahami qadha dan qadar? Pelajari perspektif Imam Ahmad, Al-Ghazali, Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, Al-Hasan Al-Bashri, Al-Muhasibi, serta empat pilar iman kepada qadar, perbedaan ridha dan acceptance, dan panduan praktis tazkiyatun nafs Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 3 Juni 2026 – 17 Dzulhijjah 1447 H Mengapa Qadha dan Qadar Relevan di Era Modern? Di tengah derasnya arus modernitas yang menuntut manusia untuk selalu mengendalikan, merencanakan, dan mengoptimalkan segala aspek kehidupan, pertanyaan tentang takdir justru semakin mendesak untuk dijawab. Ketika kegagalan datang bertubi-tubi, ketika doa terasa tidak diijabah, ketika jalan yang sudah direncanakan tiba-tiba tertutup—kebanyakan orang modern tidak tahu harus berdiri di mana. Dua pilihan yang tersedia sama-sama menyakitkan: menyalahkan diri sendiri habis-habisan, atau menyerah kepa...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...