Postingan

Saat Cahaya Menipu Mata Hati

Gambar
Saat Cahaya Menipu Mata Hati Ketika yang Terlihat Terang Justru Menjauhkan Kita dari Cahaya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 5 Juni 2026 — 19 Dzulhijjah 1447 H Bismillahirrahmanirrahim. Tidak semua manusia tersesat karena berjalan dalam gelap. Sebagian tersesat justru karena terlalu percaya pada sorot yang mereka lihat. Kegelapan membuat seseorang mencari jalan. Tetapi kilau yang menipu sering membuat seseorang berhenti mencari. Kilau kekayaan. Gemerlap popularitas. Pesona ilmu. Bahkan sinar ibadah. Yang berbahaya bukan ketika kita sadar sedang jauh dari Allah. Yang berbahaya adalah ketika kita merasa sedang dekat, sementara hati sedang perlahan menjauh. Di zaman ini manusia hidup dalam limpahan terang: terang layar gawai, terang pengakuan, terang keberhasilan orang lain yang setiap hari memenuhi linimasa. Ironisnya, semakin benderang dunia terlihat, semakin banyak hati yang kehilangan arah. Allah Ta'ala berfirman: ﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَ...

Mengapa Allah Menguji Kita? Tadabbur Al-Baqarah 286 tentang Ujian dan Rahmat Allah

Gambar
Mengapa Allah Menguji Kita? Tadabbur Al-Baqarah 286 tentang Ujian dan Rahmat Allah Tadabbur Al-Baqarah 286 tentang Ujian, Jiwa, dan Rahmat Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 5 Juni 2026 — 19 Dzulhijjah 1447 H Artikel ini bukan tafsir teknis ayat secara lengkap dalam pengertian akademis, melainkan tadabbur dan refleksi spiritual berdasarkan penjelasan para mufassir dan ulama tazkiyatun nafs. Ada satu momen dalam sejarah wahyu yang sangat menyentuh. Ketika turun ayat 284 Surat Al-Baqarah — yang menyebutkan bahwa Allah akan menghisab apa pun yang tersembunyi maupun yang tampak dalam hati manusia — para sahabat radhiyallahu 'anhum datang kepada Rasulullah ﷺ dengan wajah yang berubah. Mereka berkata: "Ya Rasulullah, kami diperintahkan untuk mengerjakan shalat, puasa, dan jihad. Tetapi ayat ini menyebutkan bahwa lintasan hati pun akan dihisab. Tidak ada seorang pun di antara kami yang sanggup menanggung ini." Rasulullah ﷺ menjawab: "Apakah kali...

Ketika Ilmu Semakin Tinggi, Mengapa Bakti kepada Orang Tua Semakin Rendah?

Gambar
Ketika Ilmu Semakin Tinggi, Mengapa Bakti kepada Orang Tua Semakin Rendah? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 4 Juni 2026 - 18 Dzulhijjah 1447 H Ada pemandangan yang berulang di banyak keluarga Muslim zaman ini — dan siapa pun yang pernah tinggal di lingkungan pesantren atau keluarga terdidik pasti pernah menyaksikannya. Seorang anak muda yang telah menyelesaikan studi tinggi, fasih membaca kitab, hafal puluhan hadits, bahkan aktif berdakwah di media sosial — namun di rumahnya sendiri, ia jarang menyapa ibunya dengan lembut, enggan membantu pekerjaan rumah, atau lebih memilih layar ponsel daripada duduk menemani ayahnya yang sudah tua. Ini bukan fenomena langka. Ini adalah paradoks yang menyakitkan: ilmu yang seharusnya menjadi cahaya, justru tidak menerangi ruang yang paling dekat — ruang keluarga, ruang bakti, ruang di mana surga pertama kali dijanjikan. Tentu tidak semua orang berilmu mengalami keadaan ini. Banyak penuntut ilmu yang justru semakin tawadhu...

Jalan Menuju Ihsan: Seni Menyucikan Jiwa dan Menghadirkan Allah dalam Kehidupan

Gambar
Jalan Menuju Ihsan: Seni Menyucikan Jiwa dan Menghadirkan Allah dalam Kehidupan Mengapa hati tetap gelisah di tengah kehidupan yang semakin mudah, dan bagaimana ulama salaf menjelaskan jalan menuju ketenangan sejati. Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 4 Juni 2026 - 18 Dzulhijjah 1447   Kita hidup di zaman yang menjanjikan kebahagiaan melalui kemudahan. Makanan datang hanya dengan satu sentuhan jari. Pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Namun anehnya, semakin banyak manusia mengaku lelah. Tidak sedikit yang mengalami kecemasan tanpa sebab yang jelas. Sulit tidur. Sulit fokus. Sulit menikmati hidup meski secara lahir tidak ada yang kurang. Dan yang lebih membingungkan, sebagian merasakan kekosongan bahkan setelah mendapatkan apa yang dulu mereka impikan. Pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi: "Bagaimana cara sukses?" Melainkan: "Mengapa setelah sukses, hati masih terasa ada yang hilang?...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...