Postingan

Marah karena Allah: Antara Ghirah Iman dan Tipu Daya Nafsu

Marah karena Allah: Antara Ghirah Iman dan Tipu Daya Nafsu Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah "Kesempurnaan seorang hamba adalah ketika ia marah karena Allah dan ridha karena Allah." — Ibn Qayyim al-Jauziyyah , Madārij as-Sālikīn Ada sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, namun menyimpan kedalaman yang luar biasa: Apakah kita benar-benar marah karena Allah, atau sesungguhnya kita marah karena diri kita sendiri, lalu membungkusnya dengan jubah agama? Pertanyaan ini bukan retorika. Ia adalah cermin yang harus diarahkan ke dalam dada, bukan ke luar. Sebab dalam sejarah umat manusia — dan lebih-lebih dalam pusaran media sosial hari ini — tidak sedikit kemarahan yang diklaim atas nama Allah, namun sebenarnya bersumber dari ego yang terluka, status yang terancam, atau identitas komunal yang merasa direndahkan. Islam tidak melarang marah. Islam justru menjadikan marah sebagai bagian dari fitrah yang mulia — jika ditempatkan denga...

Gencatan Senjata yang Rapuh: Catatan Hari ke-40 Perang AS–Israel–Iran

Gencatan Senjata yang Rapuh: Catatan Hari ke-40 Perang AS–Israel–Iran Empat puluh hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026, sebuah pengumuman mengejutkan muncul dari Washington: Presiden Donald Trump mengumumkan ceasefire selama dua minggu dengan Iran. Namun di saat yang sama, Israel justru melepaskan salah satu serangan udara terbesar ke Lebanon — lebih dari 100 titik diserang dalam waktu 10 menit. Dunia menahan napas: apakah ini awal perdamaian, atau sekadar jeda sebelum badai berikutnya? Gencatan Senjata AS–Iran: Pengumuman di Ujung Ultimatum Pengumuman datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu ultimatum AS berakhir. Trump menyatakan bahwa AS dan Iran telah menyepakati ceasefire berdurasi dua minggu, dengan satu syarat utama: Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal secara penuh dan aman selama periode tersebut. Teheran mengonfirmasi kesepakatan ini. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi m...

Ketika Hijrah Jadi Ajang Pembuktian Diri

Ketika Hijrah Jadi Ajang Pembuktian Diri Ia mulai rajin menghadiri kajian. Gaya hidupnya berubah. Lisannya perlahan terjaga, dan doa-doa terasa lebih khusyuk. Tapi di balik lapisan kesalehan yang baru itu, sebuah bisikan halus mulai merayap: "Aku sudah berubah. Mengapa mereka tidak?" Di titik inilah perjalanan yang seharusnya mendekatkan diri kepada Allah perlahan bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Hijrah yang semestinya menjadi pintu kerendahan hati, tanpa sadar telah berubah menjadi kompetisi spiritual yang sunyi — tidak ada wasit, tidak ada penonton, tapi ada ego yang diam-diam sedang menghitung skor. Fenomena ini bukan sekadar pergulatan pribadi. Ia adalah cerminan penyakit hati klasik yang kini mengenakan jubah modern — hadir dalam kemasan self-improvement , terbungkus rapi dalam narasi pertumbuhan diri, namun diam-diam menggerus keikhlasan dari dalam. Mari kita telusuri akarnya. Bukan untuk saling menuding, melainkan untuk bercermin dengan lembut dan ...

Saat Kita "Merasa Adil" Tapi Membenci Takdir

Hasad yang Tidak Disadari: Saat Kita "Merasa Adil" Tapi Membenci Takdir Seseorang duduk di majelis. Temannya baru saja menceritakan kabar baik — promosi kerja, rumah baru, anak yang berprestasi. Orang itu tersenyum. Mengucapkan selamat. Bahkan mendoakan dengan lisan yang benar. Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang bergerak. Bukan amarah yang nyata. Bukan kebencian yang bisa dinamai. Hanya semacam kegelisahan kecil, pertanyaan yang muncul tanpa diundang: "Kenapa dia? Apa yang kurang dariku?" Ia tidak merasa iri. Ia merasa — tidak adil . Dan di sinilah hasad ( الْحَسَدُ ) yang paling berbahaya bekerja: bukan dengan wajah dengki yang terang-terangan, melainkan dengan topeng rasa keadilan yang terasa begitu masuk akal. Hasad Bukan Sekadar Iri: Sebuah Protes Batin Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin memberikan analisis yang melampaui definisi konvensional. Kebanyakan orang mendefinisikan hasad sebagai keinginan agar nikmat orang lain ...

Perang Iran–Israel–AS, Hari ke-39: Tenggat Hormuz Trump dan Eskalasi yang Mengancam Peradaban

Perang Iran–Israel–AS, Hari ke-39: Tenggat Hormuz Trump dan Eskalasi yang Mengancam Peradaban Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Selasa, 7 April 2026 / 19 Syawwal 1447 H Tiga puluh sembilan hari sejak meriam pertama ditembakkan pada 28 Februari 2026, perang Iran–Israel–AS memasuki babak paling berbahaya sejauh ini. Selasa dini hari waktu Teheran, sirene masih meraung di utara dan selatan Israel. Rudal balistik Iran menghantam Kiryat Shmona. Di sisi lain, pesawat-pesawat siluman AS dan Israel menjatuhkan bom ke universitas Sharif di Teheran, jembatan kereta Kashan, dan—menurut rekaman video Mehr News—sebuah sinagoga tua di jantung ibu kota Iran yang kini rata dengan tanah. Sementara itu, di Washington, Presiden Donald Trump menetapkan sebuah ultimatum yang mengguncang dunia: jika Selat Hormuz tidak dibuka sebelum pukul 20.00 ET (sekitar 07.00 WIB, Rabu 8 April 2026), ia mengancam akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik Iran. ...

Wajah Baru Hubb al-Dunyā: Tiga Bentuk yang Sering Tak Disadari

Cinta Dunia yang Halus: Bukan Harta, Tapi Ketergantungan Emosional Ada seseorang yang sudah lama melepas harta. Ia tak memiliki rumah mewah, tak memburu jabatan, tak silau dengan kemewahan. Namun setiap kali orang tidak menyukainya, jiwanya runtuh. Setiap kali kritik datang, malamnya ia tak bisa tidur. Setiap kali kesendirian menyapa, ia panik mencari pengisi kekosongan itu. Ia mengira dirinya sudah zuhud. Padahal hubb al-dunyā ( حُبُّ الدُّنْيَا ) belum pergi — ia hanya berganti pakaian. Inilah yang disebut para ulama sebagai cinta dunia yang halus: bukan kerakusan terhadap materi, tetapi kerakusan terhadap pengakuan, kenyamanan, dan rasa aman yang bersumber dari makhluk. Zuhud Bukan Tentang Kemiskinan Sufyan al-Tsawri — ulama hadis dan ahli zuhud abad kedua Hijriah — pernah memberikan definisi yang mengubah cara kita memahami zuhud ( الزُّهْدُ ). Ia berkata: الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا لَيْسَ بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ، وَلَكِنَّهُ أَنْ تَكُونَ بِ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...