Kumingsun
Kumingsun Ketika “aku” berdiri terlalu tinggi di belakang pengalaman, ilmu, dan jabatan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu kalimat yang terdengar biasa dalam banyak percakapan: “Dari dulu caranya memang begini.” Tidak selalu diucapkan dengan suara tinggi. Bisa jadi yang mengatakannya memang telah puluhan tahun menggeluti pekerjaan itu, pernah melewati persoalan yang tidak diketahui orang-orang baru, pernah mencoba jalan yang ternyata buntu, dan pernah menyelesaikan masalah yang tidak tercatat dalam laporan. Pengalaman seperti itu tentu berharga. Masalahnya bukan pada kata dulu atau lamanya seseorang bekerja. Masalah mulai muncul ketika pengalaman tidak lagi diletakkan sebagai bahan pertimbangan, tetapi berubah menjadi palang pintu: karena aku lebih lama, maka percakapan selesai. Orang Jawa mengenal satu kata yang terasa dekat dengan keadaan itu: kumingsun . Berasal dari ingsun —aku. Namun kumingsun bukan sekadar keberadaan “aku”. Ia menggambarkan keakuan yang membesar, ...